Friday, August 20, 2010

Nasi Untuk Bapak (Edisi Lengkap)



Setelah membuat Flash Fiction yang dibatasi kata-katanya hanya 250 biji, sekarang aku posting fiksi yang sama dengan judul yang sama pula namun edisi lengkapnya dengan jumlah kata 3S (Suka-Suka Saya). Silahkan menyimak ...

Faqih menyuapkan nasi kedalam mulutnya, ia melihat bapaknya sedang menyusun cobek dan ulekan untuk dijual.

"Bapak, makan sama Faqih yok"

Bapak tersenyum, tangannya masih sibuk membereskan peralatan kerjanya.

"Habiskan saja sama Faqih, Bapak masih kenyang nak"

Faqih tertegun, ditatapnya sepiring nasi yang selalu mereka makan berdua dan selalu Faqih yang disuruh memakannya terlebih dahulu. Tak ada sepiring nasi yang lainnya yang mereka bisa makan bersama-sama, karena Bapak tak ingin makan sebelum anaknya merasa kenyang.

Walaupun sesungguhnya, Faqih tak pernah kenyang makan, karena ia sadar harus berbagi dengan bapaknya. jika ia menghabiskan nasinya, maka Bapak tak bisa makan hari itu karena hanya sebungkus nasi yang bisa ia beli untuk satu hari.

Jika malam tiba, mereka hanya bisa menikmati singkong goreng yang dibeli dari tetangganya, atau hanya sekedar minum untuk mengganjal perut tipis mereka.

Bapak akan memakan nasi bekas Faqih makan sesudah ia selesai dan meninggalkan sisanya. Faqih tahu makanan itu tak kan pernah bisa mengenyangkan perut ayahnya yang harus bekerja berkeliling kampung sebagai tukang cobek dan ulekan.

Faqih teringat sesuatu, ia beranjak dari duduknya, lalu mengambil kaleng bekas ikan sarden dan mengambil isinya berupa sejumlah uang recehan yang ia kumpulkan selama ini. Ia mengambil uang recehan itu dan menyodorkannya kepada bapaknya.

"Bapak, ini uang tabungan Faqih, beli nasi yang banyak ya Pak.Bapak jangan makan bekas Faqih lagi. Besok Faqih jual karet gelang lagi, biar nambah tabungan Faqih buat beli nasi yang banyak buat kita"

Berdesir hati Bapak melihat uang recehan yang tak seberapa di tangannya. Hatinya menjerit, anak piatunya yang sejak setahun lalu ditinggal mati ibunya, kini masih berumur tujuh tahun, sudah menyantuninya uang untuk bisa membuatnya merasakan kenyang makan. Bapak berlutut, dan menatap mata bening anak darah dagingnya itu :

"Faqih simpan saja uangmu ini nak. Biar Bapak yang cari uang untuk beli nasi yang banyak buat kita ya"

Bapak memeluk Faqih dengan kesedihan, dan melanjutkan kata-katanya :

"Faqih, maafkan Bapak belum bisa membuatmu kenyang nak, do'akan Bapak sehat ya, biar Faqih bisa makan, bisa sekolah". Suara Bapak tercekat.

Faqih terdiam, ia melihat bulir air di mata orangtua satu-satunya ini, jarang sekali ia melihatnya. Bapak orang yang tegar, namun kali ini ia tak melihatnya. Dengan tangan mungilnya, ia mengusap air mata yang jatuh di pipi bapaknya, dengan suara kanak-kanaknya Faqih berkata :

"Bapak jangan sedih, kata Ibu, kita bisa kenyang makan nanti kalau sudah di syurga. Kata Ibu, di syurga itu banyak orang miskin seperti kita, tapi kita harus sholeh dulu. Di syurga nanti kita bisa makan nasi yang disimpan di tempat pemanas nasi kayak punya temen Faqih, jadi nasinya hangat terus". Faqih mencoba menghibur bapaknya dengan sedikit tambahan imajinasinya.

Meluap air mata Bapak, dipeluknya Faqih semakin erat, tangis menggejolak di dalam dada, ia berbisik dalam hatinya :

" Ya Allah, kasihi anakku ini Gustii....sayangi dia".



Berapa banyak orang yang lapar disekeliling kita namun tak sadar kita sering mengabaikannya. Berpiring-piring nasi sisa yang kita buang ternyata sangat berharga bagi orang seperti mereka.
Terlalu banyak orang yang lapar, terlalu banyak cerita kesedihan.
Semoga Ramadhan kali ini mengingatkan kita akan tanggung jawab kita atas hak-hak mereka yang tak terpenuhi. Belajar menjalankan apa yang disabdakan Nabi kita tecinta Muhammad saw :
" Cintailah orang-orang yang miskin"

PS : Foto illustrasi diculik dari http://syair79.wordpress.com/2010/05/29/hitam-putih-kehidupan-misra-cerpen/





7 comments:

gaelby said...

Sungguh mengharukan sob.
Imaginasiku mengembara, seakan si bapak adalah aq dan Faqih adalah Gaelby putraku yg skrang sdh tiga tahunan.
Thanks, perenungan yg luar biasa :(

Gaphe said...

FAqih hebat.. pasti karena didikan papanya. semakin membuktikan bahwa kedewasaan itu bukan lagi tentang umur

inuel said...

semoga berkah di ramadhan, semakin menyayangi orang orang yang tak mampu, amin..

tante, ada award di tempatku ya, kan tante jago nulis :P

Sientrue said...

bener bgt mba.stju dweh.

Abi Sabila said...

jadi teringat syari lagu jaman dulu, kurang lebih begini;
ibu dan bapak dulu berpesan jangan pernah kau sisakan nasi
masih seribu tangan meminta tidak semuanya sama nasib
bukanklah jendela dan pintu biar kau lihat terik matahari
bukakanlah pintu hatimu bila kau dengar suara yang merintih....

barangkali banyak diantara kita yang sering menyenandungkan lagu ini, tapi seberapa banyak yang menerjemahkan lagu ini dalam kehidupan nyata, wallohualam. mari, kita lengkapi ibadah puasa kita dengan lebih peduli kepada orang lain, dengan berbagi rizki. insya Allah

ibunyachusaeri said...

Air mataku berlinang...

andie's room said...

kasih sayang dan ketulusan mereka sempurna....