Monday, August 9, 2010

Menjadi Diri Sendiri (Yang Asyik...)

Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun mendapat jatah "gubuk" di dunia maya ini dan mulai berkenalan dengan "tetangga" kiri kanan hingga kini cukup banyak teman yang berbaik hati mau berteman dengan seorang winny ini. Sebagaimana bergaul di dunia nyata (nyata dalam arti bertemu fisik) bergaul di dunia maya pun (bagi saya sebetulnya dunia internet dunia nyata juga, karena percakapannya nyata walaupun hanya dalam bentuk tulisan dan yang menulisnyapun ada, yang menulis dan punya akun FB atau punya blogpun bukan dari kalangan bangsa jin ya hehehe) sama saja menemukan banyak pengalaman dan kesan tersendiri. Sebagaimana diri saya bisa dinilai orang, maka saya pun mempunyai kesan atas pribadi seseorang yang menjadi teman saya.


Sekian lama bergaul dengan anda, dia, mereka, membuat saya teringat dengan kisah keluarga Luqman yang pernah diceritakan kisahnya saat saya masih kecil (entah mengapa kisah ini disebut kisah keluarga Luqman, apakah kisah ini berangkat dari sebuah hadist ? Yang punya nama Luqman, maaf bukan salah bunda mengandung ya...  hehehe). Kisah seorang ayah dan putranya yang melakukan perjalanan menuju satu tempat bersama keledai mereka. Ada yang masih ingat ? Kalau ada yang lupa, saya bantu mengingatkannya, begini ceritanya :


Tersebutlah seorang ayah dan seorang anak hendak melakukan suatu perjalanan menuju ke suatu tempat dengan keledai mereka. Sang ayah duduk di atas pelana keledai itu, sedang anaknya berjalan mengiringinya. Saat mereka berpapasan dengan seorang pengembara, sang ayah ditegur oleh pengembara itu :

"Sungguh menyedihkan kedaan kalian, bagaimana mungkin kau bisa membiarkan anakmu kelelahan berjalan kaki sedang kau enak-enakan menunggangi keledai itu ?".
Sang ayah termenung, menyadari kesalahannya akhirnya dia turun dari keledainya dan mengizinkan anak remajanya mengendarai keledainya, sedang dia sendiri kini berjalan kaki. Namun, tiba di suatu tempat, mereka berpapasan dengan seorang ibu yang memperhatikan mereka, dan ibu itu pun menegur mereka dengan nada prihatin :

"Hai pemuda, sungguh kau telah berlaku tidak sopan kepada ayahmu. Kau yang masih muda dengan enaknya menunggangi keledaimu, sedang ayahmu yang sudah tua kau biarkan berjalan kaki. Sungguh tidak terpuji keadaannmu".
Mendengar teguran si ibu tersebut, keduanyapun berhenti dan merenung dan membenarkan ucapan wanita tadi. Maka keduanya kini naik ke atas keledainya dan meneruskan perjalanan. Di tengah kota, orang banyak memperhatikan mereka, terdengar mereka berkat :

"Sungguh celaka kalian berdua, bagaimana mungkin keledai sekurus itu kalian tunggangi berdua, tidak sampai dua puluh langkah keledai itu pasti mati kelelahan."

Kedua ayah beranak itupun berfikir lagi, kali ini keduanya memutuskan untuk tidak menunggangi keledai mereka. Mereka menuntun keledainya dan meneruskan perjalanannya. 
Saat mereka hampir mendekati tempat yang akan mereka tuju, bertemulah mereka dengan seorang laki-laki gagah yang terpingkal-pingkal mentertawakan mereka, laki-laki itu berkata :

"Hahahaha....lihat orang tua dan anak itu benar-benar bodoh, mereka memiliki keledai yang kuat tapi mereka  sia-siakan. Mengapa tidak mereka jual saja keldeai itu daripada menyusahkan mereka ? hahahaha"
Sampai disini Luqman dan anaknya pun kebingungan lagi apa yang mereka lakukan serba salah. Akhirnya mereka berdua pun menjual keledai mereka. 
STOP (kalau dilanjut, ceritanya nggak selesai-selesai, nanti pasti ada masalah lagi setelah mereka menjual keledainya ya)


Hmm...bergaul dengan orang pun bisa sebingung mas Luqman eh Syekh Luqman di atas kalau kita tidak mandiri dalam bercara pandang, berpemahaman, berkeyakinan hingga bertindak. Kita akan selalu dibingungkan dengan apa maunya orang lain.


Teman-teman kita mungkin ada yang 'berhaluan barat' bisa jadi bergaul dengan mereka kita akan digiring pada suasana heroik, serba ideal, berhati-hati, sindiran-sindiran halus untuk hidup benar dsb. Ada juga mungkin teman yang 'berhaluan timur' bergaul dengan mereka bisa jadi kita akan merasakan atmosfir yang berapi-api, selalu mengeluhkan keadaan, protes sana protes sini, orang tidak ada yang benar pemikirannya kecuali pemikiran mereka. Bisa jadi kita punya teman 'berhaluan utara' yang serba santai, hidup "yang easy man", pembicaraan mereka seputar 'Besok makan dimana ?", senang bersosialisasi sana-sini, setiap bulan sepanjang tahun ada jadwal reuni fakultas,SMA,SMP hingga reuni TK. Mungkin masih ada teman yang 'berhaluan selatan/tenggara/barat daya/timur laut dan sebagainya (kepada arah mata angin saya mohon maaf meminjam kalian sebagai perumpamaan ya) yang memiliki kekhasan tipikal dan menghembuskan aroma pertemanan yang berbeda-beda.


Jika kita memiliki obsesi untuk menjadi pribadi yang "diinginkan" keberadaannya oleh siapapun mereka dengan haluan yang berbeda-beda itu, maka bersiap-siaplah menjadi "Confused person of the year" bahkan "confused person of the life forever and after". Karena kenyataannya kita tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang walau bagaimanapun kita menginginkannya. Tidak ada pribadi yang memiliki kesamaan yang absolut.Bahkan dua anak kembar identik sekalipun tetap memiliki kekhasannya dan hasratnya sendiri .


Oleh sebab itu bertemulah saya kini dengan kedalaman makna dari ayat dalam Al-Qur'an yang menyebutkan firman Allah :
" Allah menciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal" (QS, Al-Hujurat : 13). Saling mengenal bukan untuk saling menghakimi, bukan untuk saling menyalahkan satu sama lain. Toh memang Allah telah menciptakan kita semua berbeda-beda.Tapi sebaiknya didalam pergaulan kita tetap berusaha menjadi orang yang asyik, dalam arti berusaha untuk bisa menempatkan diri dengan baik dimana kita sedang berada. Memamerkan kefanatikan atas ide/keyakinan pribadi di tengah publik yang jelas amat beragam ini adalah sikap yang kurang bijak dan sia-sia, apalagi sampai memprovokasi bahkan melecehkan orang yang memiliki 'pendirian' berbeda.

Tetaplah dengan keadaanmu jika hal itu kau yakini benar, tetapi sertailah ia dengan menghargai orang lain yang berbeda denganmu. Sesudah itu, let's make a better place for you and for me (kata Michael Jackson).

Tidak sampai dua hari lagi kita bertemu bulan mulia Ramadhan, atas tulisan-tulisan saya yang tidak berkenan di hati, kiranya sahabat-sahabat sudi untuk memaafkan. Semoga masih diberi kesempatan menjalankan ibadah shiyam dengan lancar, amiin.
Jaga hati, jaga kesehatan, salam untuk keluarga ya...

Wassalam

14 comments:

Seiri Hanako said...

so far so good be yourself


semangat

Abi Sabila said...

ya, be yourself, itu lebih baik, yang terpenting adalah kita sudah memastikan apapun yang kita lakukan, kita ucapkan sudah dipertimbangkan baik buruknya, soal apa pendapat orang lain, itu hak mereka.

menyambut datangnya bulan suci ramadhan, saya atas nama pribadi dan juga keluara mohon maaf yang setulus ikhlasnya atas segala kesalahan, kekhilafan, kekurangan dalam setiap postingan, komentar ataupun tanggapan. sungguh, tiada maksud untuk melakukan itu, namun sebagai manusia yang lemah, tak luput dari salah, sebagai hamba yang dhoif, tak lepas dari khilaf. Selamat menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya, semoga Ramadhan kali ini bisa kita gunakan sebaik mungkin untuk meningkatkan amal ibadah baik secara kualitas maupun kuantitas, amin. Dan semoga, gelar muttaqin benar-benar menjadi milik kita,amin

AkuInginPulangDiKalaSenja said...

Setuju sekali mba, tetap menjadi diri sendiri tetapi harus juga selalu menghargai orang lain...^_^

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan mba, mohon maaf lahir dan batin ya.. :)

Sukadi Brotoadmojo said...

menjadi orang lain lebih mudah daripada menjadi diri sendiri....

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan mbak, Mohon Maaf lahir dan bathin atas segala salah dan khilaf baik yang saya sengaja maupun tidak.

terimakasih

inge / cyber dreamer said...

memang yang terbaik adalah menjadi diri sendiri ^^

dan selamat menyambut datangnya bulan suci ramadhan yah mba'...
mohon maaf lahir dan batin ^^

aura pelupa said...

Marhaban Ya Ramadhan, Mohon maaf lahir & batin!

nuansa pena said...

Untuk semuanya Marhaban Ya Ramadhan, Mohon maaf lahir & batin!

ibunyachusaeri said...

Tapi terkadang ada manusia yang hidupnya harus memikirkan orang di sekelilingnya terus, sehingga dia ga bs jadi dirinya sendiri...

Obrolan Blogger.com said...

Menjadi diri sendiri tanpa meniru menjadi orang lain adalah lebih nyaman, tidak munafik dan pastinya punya kepribadian dan keyakinan.

Selain itu memang perlu kita punya toleransi, saling menghargai dan membuat nyaman orang lain juga diri sendiri adalah perlu juga.

Mbak aku minta maaf, bila ada keliru, besok mo puasa.
makasih.

catatan kecilku said...

Biasanya yg tak menampilkan dirinya sendiri... tak akan awet mbak. Mana bisa orang berpura2 dalam waktu lama..?
Senang bisa mengenal mbak Winny di dunia maya ini...
Semoga ada waktu bagi kita utk bisa saling bertemu di dunia nyata ya mbak.
Amin..

Langit said...

menjadi diri sendiri menjadikan pribadi kita yg lebih baik,,
right...hmm

berknjung lagi disini,
langit senja mengucapkan mohon maaf atas salah dan khilaf,
marhaban ya ramadhan

selamat menjalankan ibadah puasa,,

:)

aLamathuR d'hileudjapanist II said...

Bagian terbaiknya dari tulisan ini adalah: "Jika kita memiliki obsesi untuk menjadi pribadi yang diinginkan keberadaannya oleh siapapun mereka dengan haluan yang berbeda-beda itu, maka bersiap-siaplah menjadi Confused person of the year bahkan confused person of the life forever and after". Saya setuju. Kenapa?

menurut saya, usaha menjadikan diri kita "lebih" dari orang lain terkadang perlu dipahami secara mendalam.. ada kalanya seseorang akan mengusahakan untuk 'melebihkan dirinya dengan cara yang tidak mulia' yaitu dengan 'mengurangkan' keberadaan orang lain.. Lain halnya dengan seseorang yang menjadikan dirinya 'lebih' karena memang dia dirinya telah berhasil mengatasi segala hambatan, egoisme, keangkuhan, keragu2an, kecemasan, ketidakPDan dll.

Jadi benang merahnya dari apa yang saya tulis adalah, tetaplah menjadi diri sendiri. Jauhkan diri dari obsesi untuk sekedar menjadi pribadi yang diinginkan keberadaannya oleh semua orang lain.. Lebih baik terus berusaha untuk meningkatkan kualitas diri, karena hanya dengan cara inilah yang akan mengangkat harkat dan derajat kita secara sendirinya baik dimata orang lain maupun di depan sang pencipta... Jika kita sudah sampai pada tahap ini, maka bersiap2lah untuk dikagumi banyak orang tanpa kita minta....

Winny Widyawati said...

@ Seiri
Agree with you mbak...:) makasih ya mbak dokter yg cantik...

@ Abi SAbila
Eh kita kontak juga di MP ya mas ? wah baru ngeh nih...maaf ya mas. O ya, just be yourself lebih baik y mas, makasih, selamat menjalankan ibadah puasa juga :)

@ Nilla
Ttap menghargai orang lain ya mb.Nilla :)
Makasih ya sayang, mohon maaf lahir bathin juga :)

@ Sukadi
Menjadi orang lain lebih muadah daripada menjadi diri sendiri > hmm benarkah itu mas? bukannya jadi cape mas menjadi org lain terus ?
Kita diskusikan nnt ya mas :)
Oya selamat menjalankan ibadah puasa jg, mhn maaf lahir bathin ya mas :)

@ Inge
Selamat berpuas ya Non, dan keep be yourself :)

@ mas Edy
Mohon maaf lahir bathin juga ya

@ Nuansa Pena
Sama-sama mas :) makasih ya

@ Ibunyachusaeri
Memikirkan orang lain kan nggak harus jadi orang lain ya mbak...:)

@ Obrolan Blogger
Betul mas, aku setuju itu. Saya jg minta maaf lahir bathin ya mas jika ada kata-kata yg kurang berkenan :)

@ mb. Reni
Pingiiiiiinnnn ketemu mb,Reniiiiii ....:)

@ Langit
Akhirnya langit berkunjung juga terimaksih yaa...

@ alamathuR d'hileudjapanist II
Speechless, bagus sekali komentarnya (tapi ngetik namanya susaaaahhh hehehe).
Makasih yaa...

Anonymous said...

Good brief and this mail helped me alot in my college assignement. Thank you seeking your information.