Saturday, July 10, 2010

Bukan Ibu Luar Biasa

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hampir 2 minggu hiatus dari blogging, namun tidak berarti itu pertanda aku berhenti menulis, walau hanya sekedar niat. Tapi berhubung alat menulisku seperangkat komputer manual yang tidak mobile, maka niat menulis itu harus menunggu kesempatanku muncul kembali.

Ya, selama hampir dua minggu itu hari-hariku dipenuhi scene kehidupan yang cukup menguras waktu, tenaga dan fikiranku. Namun hikmahnya, waktu,tenaga dan fikiran yang terkuras banyak itu menyisakan intisari yang berharga dalam kesadaranku. Kesadaranku akan kefakiran diri, kefakiran semua makhluk Tuhan.

Menyaksikan anak yang dikandung,dilahirkan dan diasuh dibesarkan;  menderita saat dibalut penyakit adalah suatu kepayahan besar untuk seorang ibu.

Rahma, selama sekitar 7 hari anak bungsuku yang masih berusia 2 tahun itu demam tinggi. Selama itu pula ia tak mau lepas dari gendonganku siang dan malam, kecuali jika ia benar-benar kelelahan dan tertidur. Namun selama mendapat demam, tidurnya tak pernah bisa nyenyak dan lama. Baru terlelap satu jam, ia akan terbangun lagi dan menangis mencari umynya ini untuk dipeluk dan digendong, mencari kenyamanan dari penyakitnya, walau hal itu tak bisa ia temukan jika panasnya tak juga reda.

Selama satu minggu itu merasakan perubahan suhu dibadan buah hatiku adalah kekhawatiran dan kesedihan. Aku tahu putriku kelelahan juga dan menginginkan istirahat yang cukup walau itu tak ia mengerti. Semua itu membuat kemurungan dalam hari-hariku. Sedang kakaknya Rahma juga membutuhkan perhatianku. Suatu dilema yang tentu dirasakan orang tua lain juga. Tetapi aku bersyukur masih diberi bisa bahagia melihat anakku yang lain sehat dan ceria.

Sehabis satu minggu itu ditemani naik turunnya suhu badan Rahma, kami meningkatkan upaya dengan memeriksakan darahnya ke sebuah laboratorium di kota kami. Disana kepedihan hatiku bertambah lagi, menyaksikan pembuluh bayiku ditusuk jarum yang berulang-ulang karena Rahma berontak dan menangis menyebabkan jarumnya  terlepas lagi. Hatiku menangis mendengar jeritannya, namun tak ada jalan lain untuk mengetahui penyebab demamnya, akhirnya dijalani juga.

Hasil pemeriksaan darah di laboratorium menggembirakanku sesaat, test DBD dan widal untuk penyakit thypusnya negatif. Namun HBnya kurang dan LED (Laju Endap Darah)nya sangat tinggi menandakan ada infeksi di tubuhnya. Dengan berbekal hasil lab itulah kami memutuskan membawa Rahma ke Rumah Sakit. Disana dokter juga merekomendasikan agar Rahma dirawat karena sudah terlalu lama panasnya tidak turun.

Disanalah kegetiranku muncul kembali satu persatu. Dimulai dengan keharusan untuk Rahma mendapat suntikan infus. Hati menangis lagi, saat mataku melihat mimik ketakutannya, saat telingaku mendengar jeritannya dan saat tanganku merasakan berontak tangannya. Menusukkan jarum infus ke tangan anak kecil bukanlah hal yang mudah nampaknya, apalagi anak kecil yang ketakutan dan berontak keras. Berulang kali jarum itu berhasil merobek pembuluh anakku, namun berulangkali gagal menancap dengan benar menyebabkan harus terjadi penusukkan yang berulang kali lagi. Subhanallah....betapa tak berdayanya aku menerima hal ini.

"Penyiksaan" Tindakan medis itu kembali terjadi di ruangan rawat, saat anakku harus kembali menjalani serangkaian tes darah plus tes manthoux. Rabby, aku ingat saat itu melihat anakku bagai melihat seorang ibu hendak melahirkan. Tubuhnya menggeliat, wajahnya mencerminkan kesakitan luar biasa. Dalam waktu yang sama sejenak setelah dibangunkan dari tidurnya, perawat menggunakan jarum untuk mengambil darahnya untuk keperluan test Salmonella, dan dengan jarum lainnya perawat menusuk dan mengangkat kulitnya untuk uji manthoux.


Ya Allah...
Aku bukan ibu  luar biasa, yang tegar menyaksikan anakku menderita. Aku bukan ibu luar biasa yang tak akan pilu mendengar teriak kesakitan mutiara kecilku. Aku juga bukan ibu yang hebat tanpa rasa lelah, kantuk dan penat. Namun aku ibu yang merasa masih diberikan Allah kekuatan untuk bisa selalu menemani dan memeluk buah hatiku didalam gelombang derita fisik dan psikisnya. Cinta yang Allah siramkan kepadaku baginya mengokohkan tekadku untuk selalu berada bersamanya.


Bersyukur tak terhingga saat masa-masa itu berlalu sedikit demi sedikit. Perlahan, suhu tubuhnya mendekati normal, semakin lama semakin baik hingga normal sama sekali. Walau dengan jarum infus tetap menancap di tangannya, kutemukan lagi keceriaannya, kelucuannya, kepintarannya. Rahmaku sangat antusias saat disodorkan kepadanya sebuah buku dan ballpoint untuk menggambar, sesuatu yang sangat digemarinya di rumah.


Ya Allah...
Aku bukan ibu luar biasa yang tak meleleh menyaksikan Rahmaku kembali tersenyum dan mengajakku bercanda. Aku juga bukan ibu yang hebat yang bisa terus mensyukuri walau penderitaan tengah mendera anak-anakku. Aku bukan ibu luar biasa yang tak terlonjak senang saat mendengar hasil semua tes darah untuk DBD, Thypus dan Mantouxnya seluruhnya negatif. Aku juga bukan ibu luar biasa yang tak bahagia melihat jarum infus itu akhirnya dilepas dari tangan mungilnya.


Aku hanya ibu biasa yang mengharapkan segala sesuatunya "baik-baik saja" untuk anak-anaknya, melihat mereka sehat, tersenyum dan bahagia.


Ya Allah...
Aku bukan ibu luar biasa, tetapi aku ingin menjadi ibu yang dapat mengantarkan anak-anakku sampai kepada MU dan menghisap keridhoanMU di syurgaMU. Untuk itu, aku akan berusaha menjadi ibu yang seperti anak-anakku harapkan, yaitu Ibu yang luar biasa yang dapat bersama-sama mereka saling menjaga dalam lautan dinamika kehidupan ini, saling mengingatkan saat kekhilafan, saling mendukung dalam kebaikan dan kebenaran, saling mendo'akan dalam kasih sayang Tuhan semesta alam.

Dalam tasbihku, kubisikkan tekadku...
Aku ingin menjadi Ibu yang luar biasa (setidaknya bagi anak-anakku).

Allahumma amiin


Saat tanda-tanda baik itu diperlihatkan dan Allah menghadiahkan kebahagiaan di hatiku





Saat-saat menjelang pulang

38 comments:

Ozzys Blog said...

::salam Blogger::
Saya mengerti perasaan itu, karena saya juga punya anak kecil bu..
Ini lah ujian kita saat Sang Pemilik menguji ketabahan kita akan Titipan-Nya.
Tetap semangat walau pedih itu kekuatan seorang Ibu?
Siapa Ya Rasullulloh? "Ibumu"
Siapa Lagi Ya Rasullulloh? "Ibumu"
Lalu Siapa Ya Rasullulloh? "Bapakmu"

Ibu mulia di Mata Rasullulloh, Ibu mulia di hadapan Alloh SWT.

Winny Widyawati said...

@ Ozzy
Saya meneteskan airmata membaca komennya mas Ozzy, teringat kepada ibu saya sendiri. Terimakasih mas...

Inuel Nyun's said...

Ya Allah, kata katanya bener2 menyayat dan membuatku kagum, bukan ibu luar biasa, tentu sj tante ibu yg luar biasa.
Alhamdulilah adheknya uda smbuh, q plg tkt suntik hehe

riesta said...

alhamdulillah dedeknya uda sembuh....
jangan sakit lagi ya dek,,,,

rahma said...

subhanallah..
ternyata ga gampang ya jadi ibu.
nawaitu dan insyaAllah saya juga mau banget jadi ibu yg baik :)
salam kenal..
nama saya Rahma juga loh hehe..

WONG SIKAMPUH said...

moga anak nya cepat sembuh ya mba

BaS said...

Trus yang bikin si kecil demam itu ternyata apa mba? Khan semua testnya negatif?

Cara menulisnya indah dan tulus banget!

Salam kenal mba,

Winny Widyawati said...

@ inuel
TErimakasih sayang, smg Inuel jg mnjd ibu yg baik kelak ya,aamin :)

@ Riesta
Makacih tante Riesta, amiin :)

@ Rahma
Betul mbk, bukan hal yg mudah, tetapi besar pahalanya. Semoga mbk.Rahma jg bisa mnjd ibu yg baik nnt ya,aamiin :)

@ Wong sikampuh
Terimakasih atas do'anya ya mas, sudah sembuh koq sekarang alhamdulillah :)

@ BaS
Ada infeksi entah di bagian mananya, tapi test darah terakhir HBnya mulai meningkat mendekati normal, ya namanya virus mas mungkin sulit dideteksi jg tempatnya. Itulah kebesaran Allah dan kelemahan kita,dlm tubuh sendiri manalah tahu.
Terimakasih apresiasinyadan salam kenal juga ya :)

Arya jafarudin said...

smoga di berkahi dan di ridhoi allah SWT

Winny Widyawati said...

@ Arya
Allahumma amiin, trmkasih mas :)

Sukadi Brotoadmojo said...

mungkin mbak winny bukan ibu yg luar biasa, bukan ibu yang luar biasa.....! karena untuk mengatakan seorang ibu itu luar biasa perlu takaran/timbangan untuk mengukurnya... bukankah mbak winny tidak perlu itu? bukankah seorang ibu tidak perlu sanjungan atau pujian untuk merawat anak dan keluarganaya? yang mbak winny lakukan LEBIH DARI LUAR BIASA, dan tidak ada kata yang bisa mewakilinya... semoga semua baik2 saja mbak, semoga anaknya segera sembuh dan aktivitas kembali seperti biasa...seorang ibu tak bisa dinilai dgn apapun.

maaf baru berkunjung, saya pindah ke blog ini mbak, di padang cahaya saya ekspor karena banyak link yg rusak.. terimakasih

Sang Cerpenis bercerita said...

wah, syukurlah sudah sembuh. pantesan, lama gak nongol. salam cium sayang utk si kecil ya

Winny Widyawati said...

@ mas Sukadi
Terimakasih mas, betul sekali saya tidak memerlukan gelar apapun, dan semua ibu yg baik adalah wanita luar biasa utk anak-anaknya. Hanya ungkapan gemaass kpd diri sndiri yg msh blm bisa jd ibu yg baik. do'akan ya mas.

@ mb.Fanny
Salam cium sayangnya sudah saya sampaikan mbak, sampai ngos-ngosan rahma saya ciumi hehe

catatan kecilku said...

Mbak Win.., apa yg mbak Win rasakan benar2 aku pahami. Aku juga merasakan yang sama saat Shasa sakit, apalagi Shasa adalah anak semata wayangku. Rasa panik dan cemas menghantuiku saat dia tergolek lemas dan tak berdaya....
Spt saat Shasa sakit cacar dan campak beberapa saat yg lalu. Mengingat gejala campak dan DB hampir sama, Shasa sampai harus diambil darahnya 3kali...
Rasanya, kalau anak kita sakit.., ketegaran kita jadi semakin tipis.
Alhamdulillah... Rahma sudah sehat kembali. Senang melihat lagi senyum cerianya....
Mbak Win harus jaga kondisi juga kasihan anak2 jika Ibunda tercinta sampai jatuh sakit karena kelelahan.

Fahma Nurika said...

amien.. Menurutku mbak windya sudah menjadi ibu yang luar biasa :) Anaknya lucu banget mbak, embul pipinya hehe

Winny Widyawati said...

@ mb.Reni
Ya mb.Reni, setiap anak sakit malah sy ingat org tua sy sendiri. Ternyata para ibu yg yg kita sebut tabah dan sabar itu bukannya ibu yg tdk pernah lelah,tdk pernah kesal, tdk pernah cemas/risau dsb. Mereka manusia biasa jg yg memiliki perasaan yg sama,ttp perasaan2 negatif mrk tertutupi oleh tekad ingin bertanggung jawab yg besar kpd Tuhan atas anak2 mrk ditambah cinta & kasih sayang yg Tuhan sendiri telah mengaruniakannya kepada setiap ibu.
Ya mbak, sy hrs jaga kesehatan utk mereka. Smg mb.Reni sekeluarga pun diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu, amiin.


@ Fahma
Terimakasih mbak Fahma. Iya, alhamdulillah walaupun Rahma sakit hampir 2 minggu, tp pipinya msh chubby ya :D

Rubiyanto said...

aku terenyuh mba, menurutku mba justeru merupakan ibu yang sudah luar biasa ....
aku jadi inget sama ibuku, cuma bisa sebulan sekali aku menjenguknya ....

Nuy said...

Y Allaaah aku ikut ngerasain kesedihan yang mbak rasain.. sabar ya mbak.. dede-nya jangan sakit lagi.. :)

Winny Widyawati said...

@ Rubianto
Semua ibu mmg luar biasa utk anaknya mas,disadari atau tidak. Cinta Tuhan melalui sosok ibu kpd anaknya itu tak ada yg bisa menandingi, bahkan sampai anaknya dewasa pun ibu tetaplah akan merasa mereka adalah bayi2 kecilnya yg ingin dipeluknya stp wkt.
Jadi jangan sepelekan perasaan ibu, cintanya tak kan tergantikan :)


@ Nuy
Terimakasih Nuy sayang,smg de Rahmanya sehat selalu,do'ain yaaa :)

mixedfresh said...

Alhamdulillah si kecil udah sembuh ya mbak.. jadi inget ma ibuku yang selalu jagain aku waktu sakit

Winny Widyawati said...

Betul mbak, aku juga selalu ingat ibu sendiri kalau si kecil sakit :)
Terimakasih ya mixedfresh :)

anyindia said...

jadi kangen mama yang insyaAllah bahagia disisinya.. semoga dek rahma sehat selalu kedepannya ya mbak..

Winny Widyawati said...

@ Anyindia
Kalau kangen mama, itu tandanya beliau sudah kangen juga dido'akan. Kita berdo'a utk mama,yuk :)
Terimakasih atas do'anya ya mb.Anyin :)

mamanayla said...

Salam kenal Mba Winni...semoga adik Rahmah udah sehat dan Mamanya mendapat pahala dan berkah dunia akhirat...amiiin

Sang Cerpenis bercerita said...

yg menilai adalah anak kita nanti, mbak. apakah kita adalah ibu yg luar biasa atau bukan.

Winny Widyawati said...

@ mamanayla
Allahumma amiin, terimakasih atas do'anya mbak. Salam kenal juga ya :)

@ mb.Fanny
Begitu ya mbak, mudah2an bisa jd ibu yg benar dlm pandangan Tuhan ya, dan anak2 mnjadi orang yg didekatkan kepadaNYA,amiin :)

elok langita said...

Semoga selalu biberi keberkahan dan kekuatan untuk selalu menjadi ibu yang terbaik..

:D

Winny Widyawati said...

@ Elok
Allahumma aamiin, makasih ya elok cantik :) (udah namanya Elok cantik lagi :)

diriku said...

besar pengorbanan seorang ibu..

Winny Widyawati said...

@ diriku
Betul mas, trims ya :)

albertus goentoer tjahjadi said...

menurutku, mbak sudah menjadi ibu yang luar biasa bagi Rahma...

AkuInginPulangDiKalaSenja said...

Subhanallah...
Tak ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu. Semoga selalu diberi kekuatan dan keikhlasan dalam menghadapi apapun ya mba... :)

Winny Widyawati said...

@ mas Goentoer
TErimakasih mas :)

@ Nila
Betul mbak Nila, walaupun terasa oleh diri sendiri sbg ibu kita berbuat apappun utk anak itu krn kita menyayanginya, jd tdk ada org tua yg pamrih mengharap imbalan apapun atas kerja kerasnya utk anak2nya

ardi said...

cepet sembuh ya salam kenal ...makasih bacaannya,,,tukeran info blog yuk

Winny Widyawati said...

@ Ardi
Amin,trims ya. Tukeran link oke :)

Febriyanto(フェブリヤント) said...

rada sadis yang ngambil sample darah...... :o
wah, alhamdulillah udah sembuh, kasih sayang seorang ibu emang gaterbatas,,...... saluut,.

rosanakmami said...

ya ampun, mbak..
aku jadi pengen nangis euy bacanya, ngebayanginnya aja udah gak kuat deh, kecil banget gitu khan udah harus berurusan dengan jarum suntik, infus dkk.
tapi pas lihat poto rahma nulis dengan kaki ditumpangin ke kaki satunya gitu langsung senyum deh, hehe.. mirip aku, aku suka banget pose kayak gitu, :p
alhamdulillah ya, semoga rahma selalu dilindungiNya. amin.

selamat hari jumat, mbak winny..
semoga hari ini menyenangkan :D
dan semoga mbak selalu diberi ketabahan dan kesabaran :)
peluk cium untuk rahma ya, mbak..

Winny Widyawati said...

@ Febryanto
Iya kalo yg liat sih mmg kesannya sadis ya, tp mgkn perawat jg cm menjalankan tugasnya ya

@ Rosa
Hehe iya tuh Ros, gayanya boleh juga ya hihihi, pdhl ga ada yg ngajarin.