Thursday, July 22, 2010

Cinta Untuk Anak-Anak Negriku

foto dipinjam dari sini


Sudah menjadi fitrah manusia untuk menyayang mencintai anaknya. 
Apakah karena anak itu darah dagingnya ? Apakah karena itu dengan rela orang tua melimpahkan kecintaannya dalam wujud pemberian-pemberian ? Apakah karena itu pula para orang tua banyak berkorban demi kesehatan, keselamatan dan kebahagian putra-putrinya ?


Jika karena itu semua, mengapa pada zaman ini kita saksikan betapa banyak orang tua yang menyakiti anak-anaknya, anak-anak-anak yang dikandung dalam rahimnya atau rahim istrinya. Mengapa ada bapak memperkosa putri kecilnya ? Mengapa ada ayah yang membaringkan anaknya di atas rel KRL agar kaki putranya digilasnya ? Mengapa ada ibu yang menenggelamkan putra-putrinya ? Mengapa ada ibu yang membunuh tiga anak balitanya sekaligus ? Mengapa ada orang tua yang mengurung anak balitanya berhari-hari dan meninggalkannya di rumah sendiri tanpa makanan dan minuman ? Mengapa banyak wanita melahirkan bayinya lalu membuangnya atau membunuhnya ? Mengapa ada ayah tega menyuruh anak perempuannya melacurkan diri ? Mengapa dan banyak sekali mengapa ?


Jika demikian bukan karena hubungan pertalian darah yang menyebabkan kasih dan cinta orang tua kepada anak itu terbentuk. Melainkan karena Allah saja Pencipta Segala yang telah mewujudkan cinta itu dan menyematkannya kepada dada manusia yang dikehendakiNYA. Allah telah melembagakan CintaNYA dan dibagikanNYA kepada kebanyakan orang tua di bumi milikNYA.
Betapa banyak orang-orang yang bukan ayah, bukan ibu, bukan tante, bukan om, bukan nenek, bukan kakek, namun habis waktu hidupnya untuk berkhidmat pada menjaga dan memelihara anak-anak orang lain yang ditelantarkan orang tuanya. 


Belum lama ini ada pemberitaan yang mengisahkan tentang seorang supir taxi di Bandara Soekarno Hatta yang memelihara bayi-bayi yang dibuang orang tuanya di tempat ia bekerja. Ia membawa pulang bayi-bayi malang itu lalu dirawatnya bersama istrinya seperti mereka merawat anak-anak kandungnya sendiri. Supir taxi itu memelihara 7 anak terlantar itu, sedang anak kandungnya sendiri ada 3 orang. Ditempatkan di rumahnya yang mungil, dengan penghasilan sebagai supir taxi yang tidak seberapa, namun Tuhan menunjukkan kepada kita semua dalam tayangan itu bahwa rezekinya cukup untuk hidup bersama-sama mereka dalam kasih sayang dan cinta.



Harus menjadi bahan introspeksi tingkat tinggi bagi para orang tua yang memiliki anak-anak dalam asuhannya. Apakah anak-anak itu telah mendapakan hak mereka sepenuhnya untuk dijaga, dilindungi, disayangi, diberi pendidikan yang baik dan benar .
Apakah tanggung jawabnya itu berada dalam pengendalian yang benar atau telah diserahkan sebagiannya ataukah sebagian besarnya kepada para asistennya entah itu diistilahkan dengan Baby Sitter, Pembantu dan lain sebagainya.



Sungguh miris menyaksikan beberapa anak-anak tetangga yang telah dipercayakan pengasuhannya kepada para asisten yang (maaf) banyak hanya mencari materi saja di rumah majikannya. Saat kedua majikannya bekerja di luar rumah, tinggallah si anak dengan tingkah polah "mbak-mbaknya" yang merasa "bebas" dari pantauan sang majikan. Mereka asyik bertelpon ria dengan kawan-kawanya, sering juga dengan kawan prianya. Sering ditemukan mereka membawa masuk kawan lain jenisnya bahkan membuat pesta kecil di rumah majikannya tanpa izin. Terbayang apa yang diserap si anak dari tingkah asisten seperti ini terlebih jika dikaitkan dengan jumlah kekerasan kepada anak yang banyak terjadi saat ini yang dilakukan oleh para asisten rumah tangga . Walaupun tidak dipungkiri ada pula asisten yang baik, namun tetaplah  sebagai orang tua tidak bisa dibenarkan apabila menyerahkan pengasuhan sepenuhnya kepada asisten sebagaimana baiknyapun, karena kesibukannya tidaklah mengugurkan kewajibannya dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anaknya.



Itulah yang amat mahal dan tak ternilai harganya pada zaman ini. Dimana Cinta tak dapat dibeli hanya oleh sejumlah rupiah. Keselamatan, Ilmu dan Kebahagiaan anak-anak adalah harta tak ternilai yang tak dapat ditebus saat mereka telah beranjak dewasa. Dimana mereka akan mencari lembar demi lembar kenangan akan keberadaan orang tua mereka serta cintanya. Bagaimana akibatnya jika yang mereka temukan dari lembaran-lembaran itu hanya 'ketiadaan'? padahal orang tua mereka masih hidup ? Bagaimana sekiranya yang mereka temukan dalam album kehidupannya hanya sosok-sosok pembantu rumah tangga orang tua mereka, bukan ibu dan ayahnya sendiri ? Bagaimana jika yang mereka temukan dalam album mereka hanyalah bentakan, kekerasan hati, kekakuan, wajah-wajah dingin orang tuanya bahkan kekejamannya ? Na'udzubillah min dzaalik.


Dan yang terutama adalah, bahwa orang tua yang baik bagi anak-anak  ini harus "diperluas" dalam hal tanggung jawab saling mengawasi, saling menjaga keselamatannya, saling perduli akan pendidikan budi pekertinya kepada lingkungan yang lebih besar seperti tetangga, lingkungan rukun tetangga, rukun warga dan yang terluas dalam lingkup negara ya negara itu sendiri.


Negara wajib memberikan perhatian besar akan generasi barunya dalam hal memuliakan masa depan mereka dengan memberikan pendidikan yang baik, kemudahan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik tersebut, menyediakan perangkat hukum yang kuat untuk melindungi hak-hak mereka sebagai anak bangsa, mensejahterakan kehidupan orang tuanya, yang pada akhirnya akan mengkait pada aspek-aspek besar lainnya yang untuk itulah negara ada untuk kita.



Semoga Allah mengaruniakan masa dan tempat yang lebih baik untuk kalian anak-anakku di bumiNYA ini, Allahumma aamiin





Ditulis atas kesepakatan postingan kolaborasi Gerakan Nasional Indonesia Sayang Anak yang digagas oleh bang Iwan dari Fatamorgana untuk memperingati Hari anak Nasional tgl 23 Juli 2010.

34 comments:

Bang Iwan said...

Mudah2han sumbang saran, opini, atau uneg-uneg yang kita tulis nantinya bisa menjadi sumber referensi dan instropeksi untuk lebih mendorong kepedulian kita terhadap Anak Indonesia sebagai pewaris dan penerus cita-cita bangsa.

Bang Iwan said...

Mudah2han sumbang saran, opini, atau uneg-uneg yang kita tulis nantinya bisa menjadi sumber referensi dan instropeksi untuk lebih mendorong kepedulian kita terhadap Anak Indonesia sebagai pewaris dan penerus cita-cita bangsa.

Bang Iwan said...

Mari bersama kita berusaha memberikan sesuatu yang lebih bermakna dalam hidup anak-anak kita. Tidak hanya anak-anak kita sendiri, tapi juga anak-anak yang lain.

catatan kecilku said...

Alhamdulillah..., selama ini Shasa masih selalu dalam pengasuhan dan pengawasan kakek neneknya..
Miris juga jika Shasa ada sepenuhnya di tangan pengasuh yg hanya mengejar materi semata.
*curcol dari seorang ibu yang terpaksa mencari sesuap nasi di luar rumah*

the others... said...

Mbak Winny ikutan postingan kolaborasi juga...? Tulisannya mantap mbak.., membuatku termenung lama.

Indahnya Kebersamaan said...

Buat hidup mereka dan kita menjadi lebih bermakna

Winny Widyawati said...

@ Bang Iwan
Betul bang, harus lebih perduli di zaman yg sudah semakin beraneka potensi kerusakannya. semoga kita semua bisa menjadi agen kebaikan ya, amiin

@ mb.Reni
Ya mbak, shasa beruntung ada nenek kakek yang sayang dan bisa memperhatikannya. smg shasa selalu dilindungi Allah ya mbak, amiin.

Betul mbak ini postingan kolaborasi dengan bang Iwan, mbak ikut ?

@ Indahnya Kebersamaan
amiin, setuju mas :)

ntiems said...

selamat hari anak nasional!!!

munir ardi said...

dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut akan kelaparan, reski Allah selalu tersedia di Buminya, posting kolaborasi yang sangat bagus bu

Roy Ekanala said...

Semoga semakin banyak orang yang memperhatikan nasib anak-anak Indonesia.....masih terlalu banyak kisah sedih di sini..

Winny Widyawati said...

@ ntiems
Sama-sama dek :)

@ Bang Munir
Dari nash Al-Qur'an ya bang, terimakasih bang Munir sdh berkunjung ya :)

@ Roy
Amiin, betul, kisah sedih yang justru menimpa makhluk lemah dari anak-anak negri ini ...

Ladyonthemirror said...

Makanya sebelum punya anak atau nambah anak dipikirin baik-baik ,kita siap ngga sudah lahir batin ?gimana nanti mengasuhnya, mendidiknya,sekolahnya, biaya sehari-harinya, jangan setelah punya anak punya masalah anak ditelantarkan, dijual,disiksa, dibunuh. Ingatloh punya pacar bisa putus, punya suami/istri bisa cerai, tapi hubungan orang tua dan anak sepanjang masa kita bernafas, jaga dan rawatlah sebaik-baiknya karena pertanggung jawabannya dunia akhirat.

gaelby said...

Selamat hari anak Nasional.
Semoga tidak terjadi lagi eksploitasi dan kekerasan terhadap anak, agar mereka bisa menjadi generasi yg membawa angin perubahan positif bagi bangsa kita, amiin...
Salam sobat :)

bang FIKO said...

Amiin, Mbak...
Selamat Hari Anak Nasional

Winny Widyawati said...

@ mb. Misfah
Baik buu...:-D. Duh, mb.Misfah tegas juga ternyata hehe


@ Gaelby
Amiin, thank's mas. Salam kembali :)

@ bang FIKO
Selamat hari anak nasional juga bang :)

Abi Sabila said...

Selamat hari anak, semoga semakin banyak orang tua yang sadar bahwa tak ada orang tua yang tak bermula dari anak-anak. Apa yang anak-anak harapkan sekarang adalah sama seperti yang kita harapkan dahulu, perhatian dan kasih sayang. tunaikan kewajiban orang tua kepada anak, berikan hak anak dengan bijak, itu semestinya.

Rock said...

Selamat hari anak nasional... :-)

bundadontworry said...

Selamat Hari Anak Nasional 23 juli 2010.

Semoga anak2 indonesia makin mendapat kesempatan utk terus belajar demi masa depan negeri ini,amin
salam

Online49 said...

LInk sudah terpasang teman, makasih ya

Sukadi Brotoadmojo said...

anak-anak adalah salah satu 'harta' yang kelak melekat kita bawa mati... maka seharusnyalah mereka dididik agar menjadi manusia yang baik, anak yang sholeh/sholihah...
selamat hari anak...

Winny Widyawati said...

@ Abi Sabila
Terimakasih mas masukannya :), smg kita semua dijadikan org tua yg baik,amiin

@ Rock
Makasih ya :)

@ Bundadon'tworry
Amiin, terimakasih byunda

@ mas Sukadi
Mendidik anak2 agar shaleh shalehah, setuju mas. Trims ya :)

Raini Munti said...

aslm wr wb

ak pake bedak bayi bwt badan :)

kmi py koleksi tbaru sik clothing 2010 :)

bajuqueen.blogspot.com

mksih

NURA said...

salam sobat
sip ikutan kolaborasi hari anak nasional.
selamat hari anak nasional mba Win,
semoga anak2 bangsa lebih baik dari segalanya.

Fanda said...

Wah ternyata ikutan posting barengan untuk HAN ya?
Pa kabar Win? Mana aku tungguin tulisanmu di Rumah Vixxers loh...kan dirimu sudah jadi penulis? Hehe...

Mang Umarr said...

ikutan posting kolaborasi juga ya mbak?
slamat hari anak nasional...

Hanna Pertiwi said...

selamat hari anak nasional..

salam kenal mbak

Winny Widyawati said...

@ Rainy
OK..makasih (",)

@ Nura
Amiin, semoga ya mbak. makasih ya sdh berkunjung :)

@ Fanda
Baik mbak Fanda, alhamdulillah. Wah blm sempat nulis di Rumah Vixxers ya mbak, ya inshaallah mbak

@ Mang Umar
Selamat HAN jg mang Umar :)

@ Hanna
Selamat HAN Hanna :)

The Michi said...

Maaf, balu bica belkunjung cekalang..
*so imut

aduuh teteh.. cemoga halapan teteh tentang anak saya.. looh anak saya.. anak bangsa maksudanya..
bisa terwujud yaa.

aduh mindel teteh mah udah jadi penulis..

Pakde Cholik said...

Sebagian manusia sangat mendambakan kehadiran buah hati namun sebagian lagi ada yang tak peduli bahkan bertindak keji terhadap anak kandungnya.

Mari kita sayangi anak-anak agar mereka kelak juga menyayangi anak-anak mereka, begitu seterusnya secara berantai.

Terima kasih atas artikelnya yang menggugah.

salam hangat dari Surabaya

Ozzys Blog said...

Selamat Hari Anak Nasional, semoga kita mampu menjaga generasi anak bangsa kita.

Winny Widyawati said...

@ Michi
Amiin, duh gemes jadinya baca komen k.Alang nih, hehehe.Makasih yaa :)

@ Pakde
Terimakasih Pakde sudi mampir ke blog sederhana ini, semoga apa yg kita harapkan dapat terwujud,amiin :)

@ Ozzy
Selamat HAN juga :)

azzaynal aljauziy said...

asalamualaikum ..kunjungan balik nih buat mba widya..^_^ nice post mba kepedulian tentang anak anak ,negara kadang kurang memperhatikannya padahal mereka mereka (anak2) calon penerus bangsa..

sapa tau aja mereka calon blogger juga ..hehehhe

rosanakmami said...

hmmm
jadi mikir euy baca ini
aku juga heran kok ya bisa ya para orangtua itu tega melakukan hal2 yang mbak tulis di atas itu [yang masalah kekerasan dan segala macam, dan itu anak yang kakinya dilindas kereta maksud ayahnya apa sampai anaknya diperlakukan begitu eh?]

dan iya juga yang tentang anak2 seharusnya gak sepenuhnya diserahin ke asisten, itu khan anak kita bukan anak asisten kita
tapi aku belum tau sih gimana jadi orangtua, heu..
tapi aku khan kerja, jadi mungkin pake asisten juga, tapi aku gak mau serahin gitu aja sepenuhnya ke dia..
[hlaa malah ngayal ini ya? heu..]

mamiku juga pake asisten mbak
tapi alhamdulillah kami, anak2nya, masih bisa dirawat sama mamiku karena emang mamiku khan guru ya jadi emang cuma setengah hari aja sih kerjanya, hehe
dan rumah kakek nenek kebetulan cuma di sebelah rumah aja, jadi sekalian dulu itu diawasin sama kakek nenek..

Winny Widyawati said...

@ Azzaynal
Alaikumsalam wrwb. Menyimak serius komentarnya, eh malah jadi ketawa baca statement terakhirnya hehehe...(sapa tau aja mereka calon blogger juga ..hehehhe)
hihi

@ Rosa
alhamdulillah, punya mami seorang guru, pasti sdh tau cara mendidik anak-anaknya ya Ros.Buktinya aja Rosa...top deeh, :-D