Saturday, March 26, 2011

Belajar Dari Yang Papa

Setiap berjalan-jalan di pagi hari, aku selalu mengambil rute tertentu. Melewati rute itu banyak pemandangan menarik yang bisa kulihat. Dua diantaranya yang paling kusukai adalah pemandangannya yang masih alami, karena masih terdapat pesawahan dan perkampungan yang sejuk.


Setiap jalan pagi seperti itu, ada satu spot tertentu dimana aku sering berpapasan dengan seorang anak lelaki kira-kira berusia 12 tahunan. Perawakannya kurus, tidak terlalu tinggi untuk anak seusianya dengan pakaian seragam merah putih yang lusuh dan sepatu yang sudah robek di bagian jarinya.


Setiap berpapasan dengan  anak lelaki itu selalu saja ia dalam keadaan sedang mengusung karung di kepalanya dengan ditahan oleh dua tangannya yang kurus. Beban itu nampak berat, terlihat dari cara berjalan anak itu yang tersendat-sendat. Aku perkirakan isinya adalah bahan-bahan sayuran melihat tonjolan-tonjolan yang menyembul di kain karungnya.


Suatu hari, aku melihatnya lagi, arah perjalananku dan anak itu sama, aku berjalan di belakang anak itu tapi bisa cepat menyusulnya karena aku tidak membawa beban apapun. Aku segera bertanya :


Aku :"Dek ini bawa apa ? berat ya"

Semula  hendak menawarkan diri untuk membantu mengangkat karung itu, tapi aku khawatir dia sungkan atau malah ketakutan ditanya oleh orang yang tidak dikenalnya,namun ternyata anak itu mau menjawab.

Anak : "Bawa sayuran"

Aku :"Sayuran buat apa ? koq banyak banget ?"

Anak :"Buat dijual"

Anak itu menjawab pendek-pendek, dan tidak lama kemudian anak itu berhenti di emper sebuah toko yang masih nampak tertutup. Aku lihat sudah ada seorang wanita separuh baya duduk disitu sedang membereskan sayuran lain yang sudah ada di depannya. Aku menduga dia adalah ibu dari anak tadi. Wajahnya nampak sendu, tidak terlalu banyak berbicara. Anaknya tanpa disuruh dengan sigap membuka isi karungnya dan mengeluarkan isinya lalu merapikannya. Sang ibu nampak berbicara beberapa kalimat, lalu memberikan dua lembar uang seribuan kepada anaknya yang nampaknya akan pergi ke sekolah.


Kebetulan hari masih pagi dan suasana nampak sepi, aku coba berbelanja sayuran disitu supaya bisa berbincang sebentar dengan wanita ini. Sambil sesekali melayani pembeli yang lain sang ibu bercerita, bahwa betul, anak yang kusapa tadi adalah anak laki-laki keduanya. Jika habis pulang sekolah, anak keduanya itu akan berkeliling kampung untuk berjualan membantu orang tuanya. Anda tahu apa yang anak itu jual ? Ulekan yang terbuat dari  batu yang ia tanggung keluar masuk kampung untuk membayar biaya sekolahnya. Bisa kita bayangkan,anak sekecil itu menanggung beban berat di pundaknya, keluar masuk kampung untuk menjualnya agar dapat membantu keluarganya keluar dari kesulitan hidup.


Ibu ini memiliki tujuh putra dan putri. Yang bersekolah ada tiga orang, anak paling tua sudah tidak sekolah, ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sebagai buruh cuci setrika di rumah orang. Satu adik dari anak tadi juga sekolah sudah kelas 5 SD, sedang adik-adiknya yang masih tiga orang belum sanggup ia sekolahkan karena masalah biaya dan satu lagi anak bungsunya telah tiada karena sakit diare.


Dan yang menyedihkan adalah kenyataan bahwa  suami sang ibu ternyata sedang menderita sakit stroke yang membuatnya lumpuh sejak lima tahun yang lalu, dan pada hari aku berbincang dengannyai adalah  anak ke-limanya yang masih berusia 5 tahun sedang menderita demam.


Sang ibu juga menceritakan bahwa ia numpang berjualan di emper toko milik seorang tetangganya itu dari sejak dini hari, tapi ia harus membereskan dagangannya sebelum pukul 8 pagi sebelum toko itu buka dalam keadaan bersih. Jika selesai berjualan, pada pukul 9.00 pagi hingga pukul 14.00 ia bekerja menjadi pembantu rumah tangga di sebuah rumah milik tetangganya. Sorenya baru ia sempat menemui keluarganya untuk merawat suami dan anak-anaknya. Jika malam sudah tiba, ibu ini membuat agar-agar untuk dijual anak keduanya di sekolah, menyimpan agar-agar itu tanpa dimasukkan ke lemari es karena dia tidak memilikinya,cukup diangin-anginkan saja katanya.


Tidur adalah "barang" yang sangat mahal untuknya, karena pukul 3 pagi ia akan berbelanja bahan sayuran ke pasar untuk dijual pada pukul 5 pagi hingga pukul 8 pagi keesokan harinya. Dibantu kedua anaknya yang belum mencapai usia dewasa, keluarga ini menjalani kehidupannya dengan sabar.


Sang ibu bercerita, pernah pada saat suaminya kambuh penyakitnya dan mereka kehabisan obat, sedang tak ada orang yang bisa ia mintakan bantuan barang sedikit uang, karena sudah terlalu banyak hutangnya, ia mengemis kepada dokter tetangganya untuk menolong suaminya terlebih dahulu dan biayanya akan dibayar kemudian, tapi dokternya menolak dengan halus dengan alasan ia buru-buru akan pergi bekerja dan menyarankan kepadanya untuk pergi ke puskesmas saja. Padahal semalaman keluarga itu menunggu pagi datang, agar bisa mendapatkan pertolongannya.


Atau pada kali yang lain, anaknya yang terkecil menderita diare akut, sampai lemas badannya sedang usianya masih 2 tahun. Sang ibu bertahan hanya mencekokinya jamu dari kunyit dagangannya yang sudah hampir busuk karena lama tak belanja dan tak berjualan akibat anaknya sakit ini. Si anak tak kunjung sembuh dalam waktu satu minggu tanpa bisa dibawa ke dokter karena tak punya uang dan akhirnya anak itu meninggal di dalam pelukannya. Sungguh sakit melihat wanita ini menangis menceritakan penderitaan anak bungsunya itu.



Betapa sebuah keluarga, yang sama dengan keluarga kita, mendapat cobaan hidup seperti itu, namun tidak ada keluh kesah terucap dari bibir mereka, cermin penyesalan atas apa yang tengah mereka terima sebagai sebuah ujian dalam perjalanan hidupnya. Betapa berlimpahnya nikmat yang dirasakan orang selainnya seketika menjadi tidak berarti apa-apa di mata kurang bersyukurku, membandingkan dengan pribadi-pribadi tegar yang berserakan di hadapanku ini.



Dari mereka aku belajar tentang kesabaran dan keikhlasan. Betapapun berat beban hidup yang mereka hadapi mereka tetap bertahan demi apapun yang mereka sedang yakini. Aku juga melihat, bahwa manusia sesungguhnya dapat hidup dalam tingkat hidup yang sesulit apapun. Kita semua sesungguhnya berpotensi untuk menerima sifat sabar dan tegar serta kemampuan untuk mensyukurinya dari Tuhan. Tinggal bertanya kepada diri, apakah kita mau dan siap untuk menerimanya ?



Aku teruskan perjalananku, dan disepanjang jalan,di kiri dan kananku di pagi itu berderet-deret para wanita maupun para laki-laki yang sudah sepuh, dengan sisa tenaga dan semangatnya dalam usia tua mereka, menjajakan dagangannya. Barangkali nasib mereka tidak jauh berbeda dengan ibu yang baru saja kukisahkan. Bergumul dengan kerasnya kehidupan dan tak ada siapa tempat memohon pertolongan, kecuali kepada Tuhan satu-satunya tempat meminta.




Semoga Allah melindungi mereka
Semoga Allah-pun membuka mata hati kita
Amiin

9 comments:

Gerbong banten said...

Waah, sebuah inspirasi hangat pagi hari nih. Makasih banyak kak.. Follow me yah

Andy A.Fairussalam said...

Assalamu'alaikum, blogwalking n follow blog kamu, follow back ya ke AndyOnline.Net ^_^

Nyach MMS said...

ini kisah nyata ya, beban hidup yang sangat berat kurasa, tapi jadi ringan dengan ketabahan dan kesabaran

salam kenal aku memperkenalkan diri mau follow , sudah follow twrnyata

Gaphe said...

wow, keren anak itu... mau sekolah harus berjuang terlebih dahuilu memanggul sayur untuk dijual.. setiap hari setiap kejadian yang kita lihat bahkan dalam perjalanan menjadi sesuatu hal yang bisa kita mabil hikmahnya yak.

catatan kecilku said...

Mbak.., merinding aku membacanya. Betapa berat beban hidup yang harus dijalani keluarga itu ya? Mengapa negeri kita tak jua mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya? mengapakah hanya sekedar biaya utk makan saja mereka tak punya? Apalagi biaya utk perawatan kesehatan yang sangat mahal di negeri ini. Semoga Allah senantiana memberikan kesabaran dan keihlasan bagi mereka dan semoga pertolongan Allah datang bagi mereka. AMin.

the others.... said...

Mbak, ceritanya menyentuh sekali. semoga kita semua terbuka mata hati kita dan mau memberikan bantuan utk orang2 yg membutuhkan yg ada disekitar kita.

pencari jejak said...

inget ceritanya ibu di masanya. :)
salam kenal mba! :)

ibunyachusaeri said...

Mba Winny makasih yah atas postingannya, sungguh sangat membuatku tersadar bahwa aku terlalu banyak mengeluh, sekali lagi makasih sudah mengingatkanku yah Mba Winnyku :)

NINDAAA said...

masyaAllah mbak... malulah pengemis sehat dan yg malas bekerja pada ibu itu :( smg mampu menggerakkan kita untuk lebih banyak beramal