Saturday, October 2, 2010

Es Krim versus Lebay

Mencoba "menyimak" pemberitaan-pemberitaan ataupun pergaulan orang-orang baik di dunia nyata maupun dunia maya. Jadi ingat ke jaman masih aktif di organisasi di sekolah (OSIS) dulu, ada istilah "Es Krim"untuk mengganti kata ekstrim (extreme), sebuah istilah yang disandangkan pada keadaan atau sikap yang melebihi batas yang seharusnya. Keadaan atau sikap yang tidak proporsional lagi, tidak seimbang, tidak harmony. Dalam istilah agama kata ini setara dengan istilah ta'ashub (kefanatikan), pendirian yang radikal, cenderung berburuk sangka dan menganggap orang lain salah. Jika sudah demikian maka ia akan mengkristal menjadi paradigma (cara pandang), kemudian menjadi sikap bathin, dan bisa membuahkan perbuatan-perbuatan yang ekstrim pula pada akhirnya.


Ada beberapa padanan katanya yang sering dipersamakan orang untuk menggambarkan keadaan atau sikap ekstrim itu, yang sedang trend sekarang di kalangan anak muda adalah istilah 'Lebay'. Kalau saya menyebut kata lebay, siapa yang terfikir seorang artis di televisi yang sering bersikap seperti itu ?... Sudah terbayang ? Sukakah anda dengan artis itu ? Mmm suka atau tidak suka, mungkin jawabannya akan relatif, tapi saya yakin sebagian besar akan menjawab tidak. Hal ini membuat rasa yang tidak nyaman, bahkan muak.


Sikap lebay atau ekstrim pertama yang dilakukan manusia untuk pertama kalinya dilakukan oleh putra Nabi Adam as, Qabil. Diawali saat ia tidak bisa menerima kenyataan adiknya Habil menikah dengan wanita yang disukainya. Timbul iri hati dan dengki kepadanya, dan puncaknya adalah saat Tuhan lebih memilih persembahan adiknya daripada persembahannya sendiri. Sikap lebay/ ekstrim Qabil ini berbuntut pada pembunuhan atas adiknya itu.


Saya merasa, keadaan dunia yang semakin memanas saat ini juga adalah karena semakin besarnya jumlah orang yang bersikap ekstrim dalam segala hal. Semua kalangan mudah bersikap lebay. Padahal kita tidak suka kalau melihat orang yang lebay bukan ? Orang yang lebay, reaksinya selalu menebarkan aura negatif pada lingkungan sekitarnya, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Menanggapi segala sesuatu keadaan selalu berlebihan. Pada mulanya mungkin orang-orang masih bisa menerima kelebayannya, tapi semakin lama orang tentu akan lelah "mengikuti" sikap yang demikian.


Keberlebihan dalam paradigma, lalu sikap, lalu perbuatan ini sudah menimbulkan dampak tidak baik bahkan menghancurkan dalam sejarah dunia ini. Segala peperangan yang terjadi juga adalah akibat dari sikap ekstrim ini. Kalau sekarang terdapat banyak literatur tentang faham-faham / ide yang diusung oleh manusia-manusia yang dianggap legenda yang telah menciptakan peperangan-peperangan tingkat dunia, maka itu semua tidak lain karena sikap lebay mereka dalam memahami dan mensikapi kehidupan.


Tidak ada lagi ruang untuk berprasangka baik, tidak ada celah untuk bertoleransi, tidak ada kesempatan untuk orang lain memperbaiki diri. Ingat lagunya Ebiet G Ade : "Apakah jika orang pernah berbuat salah, dia akan tetap salah". Ke-ekstrimisan membuat orang hopeless, putus asa, tak ada lagi harapan, yang dia anggap salah harus dibabat, dibantai, dihancurkan. Maka tak heran jika di pemberitaan dunia sekarang dipenuhi dengan pemberitaan tentang anarkisme. Ada demonstrasi berdarah, ada pembagian zakat berdarah, ada penyiksaan TKW, ada pelemparan dengan kotoran gedung kedutaan, ada pembakaran Al-Qur'an, ada pembakaran bendera negara yang dianggap musuh, ada penjarahan, ada penghancuran gedung oleh demonstran, ada pemboman oleh teroris, ada perampokan berdarah, ada genosida (pembersihan etnis, suku, agama), ada penjajahan negara dan kengerian-kengerian lainnya.


Bisakah kita belajar memandang kehidupan ini secukupnya ? sesuai dengan yang seharusnya ? adil, proporsional. Mengecilkan volume keriuhan ini. Membenahi berantakan ideologi dan faham yang berserakan ini. Menata kembali semuanya pada tempat yang seharusnya. Biarlah semua ide itu tetap ada, namun tersimpan dalam tempatnya masing-masing. Bergaul satu sama lain dalam harmony. Menemukan asyiknya hidup guyub dan rukun di dunia ini.


Harus dimulai dari diri kita sendiri. Menjadi pribadi yang bijak, dapat memandang, memahami, mensikapi dan menggauli kehidupan ini secara adil, secara proporsional. Banyak yang bisa kita lakukan untuk kebaikan jika semua kita bersikap arif. Banyak waktu yang dapat kita manfaatkan untuk sebesar-besar perubahan untuk kemaslhatan kehidupan jika kita bertindak benar. Memulai dari saat ini, setidaknya saat membaca dan mensikapi postingan ini


Hmm dunia semakin panas, daripada ekstrim, mendingan kita makan es krim aja yuuk...


21 comments:

WONG SIKAMPUH said...

Bener bgt mba,dunia dah tua dan sdh lelah...

Dinhakki said...

Assalamualaikum ,
Satu posting yang baik ,
Jazakallukhoiron

inge / cyber dreamer said...

nice post...
semua memang dimulai dari diri sendiri >.<

dan yuuuuuk... mari mam es krim bareng ^^

Winny Widyawati said...

@ Wong Sikampuh
artinya mas ...? biasanya tambah tua tambah kalem dan bijak ya, tapi orang2nya malah tambah anarkis ??


@ Diinhakki
Alaikumsalam, makasih :)


@ Inge
Ayuukk...suka rasa apa Nge ? :)

ibunyachusaeri said...

ssetuju bgt mba, memang seharusnya jgn memandang segala sesuatu secara berlebihan...

penghuni60 said...

berbicara tentang waktu, aku bahas hal itu diblogku, mampir ya...

emang bnr sih...mending kita mkn es krim..
dikirim ke Penghuni60 ya mba es krimnya
hehe..
:)

Science Box said...

mksh mba atas pencerahannya, artikelnya bnr2 menyentuh

Sukadi Brotoadmojo said...

saya bingung dengan istilah lebay. bahasa yang lagi tren tapi saya nggak paham :)

Terkadang kita kurang bijak dalam menyikapi hidup, bersikap adil rasa-rasanya sangat sulit. Hidup harus proporsional, adil bukan berarti harus sama, tapi bagaimana kita memandang sesuatu bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri.

*sorry mbak kalau komennya nggak nyambung :)

joe said...

apalagi kalau es krimnya gratis .....

Winny Widyawati said...

@ mb.Neni
Secukupnya aja ya :)

@ Penghuni 60
Ya nanti mampir sambil bawa eskrim :)
makasih yaa

@ Science Box
Terimakasih apresiasinya mas :)

@ Sukadi
Lebay maksudnya berlebihan mas, sikap yang dibuat-buat, tidak natural.
Benar, adil bukan berarti membagi sama rata, harus sesuai keperluannya, sesuai seharusnya.
Sudut pandang orang berbeda-beda benar, itu sebabnya ada wahyu Allah untuk menuntun kita
*Nyambung2 aja koq mas :)

@ Joe
Itu juga yg saya mau hehe

NDA said...

dan katanya berhubung makamnya habil panjangggg jaman dulu habil tinggi buangeeettt :) (ga nyambung ya mbak)

Winny Widyawati said...

@ NDA
Jadi panjangnya lebay gitu ya xixixi ada2 aja deh :)

Nyun-nyuN said...

Biarkan smw ada pd tempatnya, dan seharusnya dy berada.
Extreme jd es kyim haha. .

Sang Cerpenis bercerita said...

es krim rasa apa? mau dong kalo stroberi

NURA said...

salam sobat
benar mba,kadang kita tidak suka lihat orang lebay,
lebay dalam bersikap dan memahami sesuatu hal.

Winny Widyawati said...

@ Inuel
Ya Inuel biarkan semua pada tempatnya ya :)

@ mb.Fanny
Suka strawberry ? bungkuuss...:)

@ mb.Nura
Sepakat mbak :) terimakasih ya mbak-ku sudi berkunjung ...:)

Langit said...

salam, pa kabar mba ?

kembali berknjung disini, membaca ruangruang penuh makna dan pelajaran, hmmm nice

ya, kita harus menerima sebuah kenyataan walau pahit,he

gaelby said...

Ulasan yg mencerahkan.
Sy sgt sepakat bahwa semuanya harus proporsional.
Keseringan lebay bikir boring. Karena sepatu lebih mahal dari pada peci, Lebayer kadang menempatkan sepatu itu pada kepalanya.
Salam sobat :)

isnuansa said...

Berat deh, kalau harus jadi pribadi yang bijak...

om rame said...

mengenai bahasa peyampaian, biasanya ada juga yang kurang merasa percaya diri untuk menyampaikan pada kata yang sebenarnya, sehingga ia mengistiLahkan pada kata2 tertentu. bertujuan agar tidak terfokus kepada yang dimaksud, padahaL kaLau di simak sebenarnya maknanya sama hanya bahasa penyampaiannya aja yang berbeda.

Pakde Cholik said...

Mengapa ya kita kok sula sekali ribut dan ribet.mbok damai saja.
salam hangat dari Surabaya