Wednesday, April 20, 2011

Wanita Di Persimpangan Jalan

Ini kisah usang tentang wanita
Tak didengungkan hadirnya namun terwarta
Menyibak tirai malu-malunya
Wanita ...
Memilih jalannya di persimpangan



Tak serupa rayap tak bermata
atau lemah sarang laba-laba
Wanita dikarunia berkah tak habis-habisnya
Tuhan sembunyikan dibalik lembut senyumnya



Sejak mula menjadi buah hati keluarga
Dikasihi Ibu dimanjakan Bapak
Ditimang disayang disanjung raga
Dididik santun berbudi bahasa


Anak wanita menjadi barang berharga
Tak izin seseorang mencacat eloknya
Jika datang lebah mendekat
Ayahpun garang tak boleh izinkan lekat


Beranjak tumbuh bagaikan bunga
Wanginya harum memancarkan aroma
Gemas orang hendak memetiknya
Wanita...
Selalu mengundang Sirama-rama


Banyak terkandung cita-citanya
Ingin terbang memuliakan karunia
Cerdik pandai dalam genggamannya
Wanita...berkibar sayap-sayapnya
Telah siap menaklukan dunia



Namun "dunia" tak selalu ramah padanya
Baik harapan tak selalu sebanding pada kenyataannya
Wanita dipaksa keluar dari kodratnya
Tanpa maunya Tanpa inginnya



Siapakah mereka yang berdiri di bebatuan cadas ?
Memukulkan palu menghancurkan batu keras ?

Siapakah mereka yang mengemudi ojek, becak dan sepeda ?
Walau penat menghantam tetap berlapang dada ?

Siapakah mereka yang mengais-ngais di timbunan sampah ?
Agar dapat membeli susu anaknya dan sekedar beras berharga murah ?

Siapakah mereka yang menjadi buruh bermandikan peluh ?
Merelakan diri, menjadi hamba disuruh-suruh

Siapakah mereka yang mengangkut karung-karung berat tuk  mengharapkan upah ?
Tak cukup rihlah tak cukup melepaskan lelah.

Siapakah mereka tergeletak di sudut-sudut jalan ?
Menghinakan diri menadahkan lengan

Siapakah mereka wanita-wanita tua  memikul nampan di kepala ?
Menjaja dagangan tak perdulikan renta

Siapakah mereka menyapu jalanan di pagi buta ?
Memungut sampah mensucikan kota

Lelah, sakit, lapar....
Di terik siang atau tajamnya angin malam


Mungkinkah  itu ibuku ?  mungkinkah itu saudara perempuanku ?
Allahu......
Mereka hamba-hambaMU
Sama mengharap lembut pertolonganMU


Di tanah kembara pula wanita menjela
Di tanah peperangan wanita juga berada
Diancam, dihina, disiksa, dianiaya
Tak pandang umur tak pandang usia
Raga dicacat
Jiwa diluka
Wanita, tak henti dibuat lara


Entahlah lagi bagi kaum ini
Berlenggak-lenggok kesana kemari
Ingin membuktikan kecantikan diri
agar dipuja para lelaki


Mengais rezeky di malam hari
Menawarkan kehangatan diri
Demi setangkup rupiah
Harga diri dibuat murah



Tesssssss...........


Gerimis basahi paras
Hampir-hampir padamkan lentera
Menggenggam sekeping bara masih menyala
Mungkin masih bisa hangatkan sudut jiwa
Terbata-bata memeluk kesucian makna


Wanita, di persimpangan jalan

3 comments:

ibunyachusaeri said...

Saya yakin mba, stiap perempuan pasti tidak ingin berada di persimpangan jalan...

insan said...

pisinya bagus dapat isnpirasi dari mana ni , setiap orang ingin hidup normal

AngsanaHills said...

keren puisinya.. luar biasa inspirasinya... :)