Thursday, September 23, 2010

Belajar Membalik Watak

"Hari Perdamaian Sedunia ???"
Biasa, reaksi orang kurang informasi ya begini ini. Tapi memang begitu adanya saat membaca postingan teman pada tanggal 21 September 2010 lalu (oke deh, tepatnya postingan berjudul Dimana Ya Damainya ?).

Masalahnya pada hari itu, sepanjang yang kuketahui dari pemberitaan-pemberitan di televisi maupun internet, justru terjadi banyak sekali ketidakdamaian di negeri ini maupun di belahan dunia lain. Melanjutkan fenomena yang sama menyedihkannya dengan hari-hari sebelumnya, dan aku khawatir hal yang sama akan tetap berlangsung di hari-hari selanjutnya, di sepanjang hidup kita akan menyaksikan banyak kengerian kemanusiaan yang tidak hanya menimpa manusia-manusia yang mengaku dewasa dengan segala yang dimilikinya, melainkan juga menimpa manusia-manusia tak berdaya seperti anak-anak, orang-orang yang berusia sepuh, dan orang-orang tak berpunya baik dalam hal fisik, mental maupun harta.


Apakah perdamaian tidak mungkin bisa diwujudkan ?

Apakah tidak bisa kini orang-orang semakin banyak yang menguasai ilmu pengetahuan untuk membuat perdamaian menjadi nyata ?
Apakah tidak cukup kini orang-orang banyak mengaku beragama untuk membuat perdamaian dapat diwujudkan ?
Apakah makna perdamaian itu sendiri sesungguhnya ?
Benarkah jika hal itu menjadi tujuan ?

Seolah-olah kita sudah kehilangan harapan bahkan di negri yang katanya penduduknya relijius, ramah dan suka bergotong royong ini. Apa yang salah yang telah berjalan selama ini dan tidak kita sadari ?

Mungkin karena kita malas belajar,
  • Malas untuk belajar "membaca" dinamika kehidupan, sehingga tak bisa mengambil saripati hikmahnya.
  • Malas untuk belajar mengejawantahkan ilmu pengetahuannya untuk kebaikan kemanusiaan, banyak orang yang intelek namun hanya sekedar menyempitkan otaknya dengan angka-angka, tapi tidak memperkaya pemahamannya terhadap kehidupan.
  • Malas untuk belajar bahwa memeluk agama yang diyakininya sebagai perwujudan imannya bukanlah sekedar hiasan, kata lain untuk narsisme religitas juga bukan stempel untuk melegalisir perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya disemangati hasrat nafsu pribadinya.
  • Malas untuk belajar memahami bahwa segala bentuk perbedaan kemanusiaan di dunia ini adalah berasal dari Tuhan juga, yang seharusnya menjadi rahmat bagi akalnya untuk mendapatkan rahasia-rahasia kebesaran Tuhannya.
  • Malas untuk belajar dari sejarah, bahwa manakala segala perbedaan itu dipaksa agar menjadi sama, maka akan hancurlah dunia yang dibangun atas perbedaan yang harmony itu.
  • Malas untuk belajar menyadari jika dirinya telah terjerumus pada sikap-sikap rendah seperti merasa diri lebih baik dari yang lain, merasa dan mengaku paling benar sendiri.
  • Malas untuk belajar menyetir wataknya agar dapat sesuai dengan fitrahnya sendiri yang hanif.

Pada point terakhir yang tersebut diatas kiranya dapat menjadi program bersama yang pantas untuk "dibelajarkan" kembali kepada kita semua, yakni untuk belajar membalik watak. Watak yang biasa diperbudak oleh watak manusia pada umumnya sekarang ini. Salah satunya adalah apabila dicela, mendapat perlakuan yang disangkanya tidak menyenangkan, dihina, digunjing, apalagi terkena fitnah, segera saja nafsunya yang berbicara. Tidak bisa menerima, mendendam, mengancam, marah bahkan mengamuk (ini yang terjadi hampir di seluruh belahan negri ini khususnya).


Akan lain halnya apabila orang yang niatnya sangat kuat untuk didekatkan oleh Allah kepada-NYA, maka hal itu justru diterima dengan lapang dada, bahkan disyukuri sebagai alat untuk memperbaiki diri.

Mungkin masih ada waktu untuk kita belajar hari ini...
Selamat hari perdamaian sedunia, kapanpun itu.


7 comments:

Sientrue said...

yeah begitulah manusia. Mungkin udah sifatnya begitu.

Sukadi Brotoadmojo said...

Belajar memahami arti kedamaian dari diri sendiri, belajar merasakan kedamaian dari diri sendiri, kalau sudah baru kelingkungan terkecil yaitu keluarga, kemudian kelingkup yang lebih besar yaitu lingkungan, kemudian kelingkup yang lebih besar lagi dan lagi... :)
Tak perlu ada hari perdamaian, karena tidak seharusnya ada, setiap hari harusnya damai, begitukan mbak?
Bisa karena biasa, biasa karena terbiasa, terbiasa karena dibiasakan....he.he.he
Terimakasih

pelangi anak said...

Alangkah indahnya apabila dalam kehidupan ini selalu diselimuti dengan kedamaian. Memang aneh, disaat peringatan Hari Perdamaian, masih banyak ketidak damaian terjadi di sekitar kita..,

gaelby said...

Assalamu'alaikum.
Nice post, thanks buat pencerahannnya.
Banyak yg cinta damai tapi perang dan kemurkaan makin ramai.
Sya stuju bnget, kata kuncinya adalah bersyukur, ihktiar dan sabar.

catatan kecilku said...

Mbak.. aku mau ngaku nih. Aku baru tahu kalau 21 Sept adalah Hari Perdamaian Sedunia... *tersipu malu*

the others.... said...

Andai saja perdamaian ada setiap hari, alangkah indahnya dunia ini..
Selamat malam mbak... maaf baru mampir lagi.

albertus goentoer tjahjadi said...

damai... ya setuju banget mbak... itulah hal yang mesti kita gumuli dan hidupi saat-saat ini...