Tuesday, June 7, 2011

Gadis Bermata Embun

Ini kisah sederhana tentang keindahan yang rumit
Yang menjejakkan torehan makna di ruang yang sempit


Ia melukis wajahnya untuk sembunyikannya
Seakan segala di dunia harus dihadapinya dengan kepalsuan
Ia tak miliki dirinya
Tak miliki takdirnya


Menjadi Mahakarya dalam dunia yang mengapung
Menjadi apapun yang mereka inginkan


Tiada yang tahu apa yang telah hilang dalam hidupnya
Tiada yang perdulikan


Berjalan dalam kahyangan angan-angan
Menyaksi bahwa bahgia itu nyata adanya
Namun bukan untuknya.......
Melainkan, sebentar saja


Ini kisah gadis bermata embun
Tiada yang dapat digenggamnya
Melainkan sebutir asa di keping hatinya

Sunday, May 29, 2011

Irish terakhir...

Hatiku masih disini
Terpaku diantara rerimbun kenangan kita
Mengutip satu-satu aksara yang pernah kau bagi untukku
Mendekapnya di palung ingatanku


Getar itu masih sama di dawai kalbu
Seakan kata-kata itu baru kau ucap tadi malam
Mengusap-usap halus rinduku
Tak hirau kemelut di benak insan


Angin musim gugur mainkan anak rambutku
Seperti nasib tlah mengombang ambing cerita kita
Biarkan genggaman lepas dan hanyutkanmu
Jauh...jauh membentang jarak tak berbatas


Masih kujejaki perjalanan kita
Walau hanya berkendara nada




Ini  Irish terakhirku
Kusematkan...di nisan-mu




PS : Gambar dari sini

Saturday, May 21, 2011

Kebajikan, Milik Siapa ?

Masih dini hari, dan hujan semalam belumlah usai. Bayu masih berdiri di antara rumah-rumah kumuh yang berderet-deret itu. Ada satu rumah yang menarik perhatiannya, dan telah menerbangkan perasaannya sedemikian, disebabkan pemandangan yang telah disaksikannya selama ini.



Sebuah tempat yang telah tak layak disebut rumah, disebabkan rapuhnya dan tak tentu lagi bentuknya. Air hujan telah menggerogoti setiap rangka kayunya dan melubangi atapnya. Namun telah cukup menjadi naungan seorang ibu renta yang selama hidupnya telah disibukkan untuk menjawab segala kesengsaraan dan penderitaan. Kedua putra lelakinya yang sama telah tua dan tak berdaya, disebabkan penyakit lumpuh dan keterbelakangan mental menjadi mata air cintanya yang tak pernah surut untuk tetap berjuang mencari penghidupan.



Bayu tahu, wanita tua itu setiap hari harus menimba air, mencucikan baju tetangga, dan tetap harus merawat dan menjaga putra-putranya yang telah dewasa namun tak berdaya itu. Setiap pagi ia harus mencuci dan menjemur nasi basi pemberian majikannya, agar dapat ia olah kembali untuk sekedar membayar rasa lapar perut anak-anaknya. Tak berharap lauk bercita rasa, cukuplah setabur garam atau barang kepala ikan yang dipungutnya dari kios ikan atau sayur bekas makan yang tak habis dimakan majikan.



Bergumpalan pedih di hati Bayu, menyaksi penderitaan. Hanya pemberian sedikit beras sesekali, atau sekedar rupiah tak berarti yang dapat ia beri. Cukuplah sedikit cerita dan isak tangis sang wanita tua, telah menggugah semangatnya untuk dapat tetap mengunduh kebajikan. Dimana sama berada dalam kesadarannya, bahwa tak hanya satu keluarga yang membutuhkan perdulinya. Beratus deret gubuk lainnya dengan nasib tak jauh berbeda, telah sama menyentak rasanya.



Bayu tak habis mengeluh, deretan rumah-rumah kumuh itu tak jauh berdiri dari deretan lain rumah-rumah mewah yang hanya dibatas selapis benteng batu. Namun tiada perduli barang setipis kain yang mampu menghantarkan iba para insan kaya kepada tetangganya kaum miskin papa.



Ada satu gemasnya, kepada seorang saudagar kaya yang gedungnya hanya sepelemparan batu dari gubuk nenek tua itu. Bagaimana bisa keluarga itu tak mengerti keadaan sekelilingnya. Sedang dindingnya telah menghalangi cahaya surya pada kediamana keluarga sang nenek renta. Bertahun-tahun air cucuran atap mewahnya telah mencucurkan kemalangan melalui atap bocor sang nenek.  Tanpa disadarinya, Bayu terbangkan do'a kepada sang Maha Pencipta, kiranya Dia turunkan azab kepada sang dzalim tak punya rasa.



Berbulan kemudian, seperti biasa. Bayu berjalan dari rumahnya, hendak menjenguk keluarga sang nenek tua. Dilewatinya rumah mewah yang dia tak bersimpati pada penghuninya. Ada bendera kuning berkibar disana, tanda ada seseorang telah wafat di dalamnya. Bayu hanya merunduk saja, agamanya tak izinkan dia bersuka atas kemalangan orang lain walau musuh yang dibencinya.



Tak lama, sampailah ia di pintu sang nenek tua. Terkejut hati Bayu, seketika melihat sang nenek tengah menangis tersedu menyebut nama seseorang yang rupanya pemilik rumah yang tadi ia lewati yang kini telah meninggal dunia itu.
Tatkala ia menanyakan sebab, mengapa sang nenek meratapi kepergian orang itu, maka terkejutlah hatinya untuk kesekian kali, dan besarlah takjubnya, betapa rahasia Tuhan tak ada yang mengetahu, melainkan dengan izinNYA.



Dari cerita sang nenek tua, barulah Bayu tahu, betapa rupanya sang tuan kaya itu telah meninggal dalam keadaan meninggalkan banyak kenangan kepada para miskin dan orang tak berpunya. Setiap malam di sisa usianya, sang tuan selalu berkeliling membagikan makanan kepada mereka selama 10 tahun lamanya. Meminjamkan uangnya kepada mereka yang membutuhkan tanpa sepengetahuan yang lainnya tanpa jaminan dan bunga. Membayar biaya pengobatan para faqir yang sakit. Dan baru diketahuinya, tenyata sang tuan pun sering pula menolong keluarga sang nenek tua.



Dari bibir seorang keluarga sang tuan, Bayu mengetahui alasan, mengapa mereka  begitu kehilangan. Di setiap siang harinya sang tuan selalu memungut sebuah batu setiap kali ia merasa melakukan khilaf dan kesalahan. Sebanyak ia lakukan kesalahan, sebanyak itu pula batu ia kumpulkan. Ketika tengah malam tiba, ia bangun dari pembaringan. Mengambil air wudhlu dan tegakkan shalat malam. Di hamparan sajadahnya, bersama tetesan air matanya, ia serakkan butiran-butiran batu itu, ia sebutkan satu persatu dosa dan kesalahannya di siang hari kepada Tuhannya. Ia adukan kelemahannya dan haturkan limpahan taubatnya. Berharap sang batu menjadi saksinya betapa ia teramat menyesali perbuatannya.



Menangis terguguk Bayu di nisan sang tuan. Betapa selama ini ia telah menjadi hakim tak punya perasaan. Mengalamatkan tuduhan tak berbukti tak beralasan. Sedang dalam Al-Qur'an yang suci telah disebutkan, seorang mu'min itu tiada kuasanya melainkan hanya saksi bagi mu'min yang lainnya. Dan Rasul itu adalah saksi bagi manusia seluruhnya. Tiada haknya, untuk menilai seseorang hanya dari sudut pandangnya saja.



Melangkah lunglai kakinya, di tangan Bayu tergenggam sebuah amanat. Sekotak uang dari almarhum sang tuan yang dititipkan keluarganya kepadanya dan permintaan maaf kepada keluarga sang nenek tua, sebagai pengganti kerugian dari akibat air cucuran atap sang tuan yang telah merusak atap keluarga nenek miskin itu.



Maha Besar Allah yang Maha Penyayang. Kebaikan itu disematkanNYA kepada siapa saja yang dikehendakiNYA.
Semoga kita, termasuk orang-orang yang dipilihNYA, untuk memilikinya jua.
Tiada kebajikan itu melainkan adalah milik dan datang daripadaNYA. Maka tiada sombong itu memiliki ruangnya.

Selamat menabur kebajikan teman-teman :)

Monday, May 16, 2011

Blogger Berbagi Kisah Sejati

Mohon izin berbagi bahagia ya...

Ada sekelumit kisah yang kutulis di buku ini, bersama penulis-penulis lain berbagi pengalaman sejatinya. Berawal dari sebuah lomba yang kemudian beberapa tulisan terpilih diabadikan dalam buku dengan cover berjudul :
Blogger, Berbagi Kisah Sejati

Jika berkenan membacanya, silahkan untuk menyimak informasinya dibawah ini.

***************************************************************


Blogger Berbagi Kisah Sejati

Penulis : Anazkia, Akhi Dirman, Naqiyyah Syam, dkk
Penyunting : Indiepro
Tata Letak : Indiepro
Cover : Indiepro
ISBN : 978-602-9142-09-9
Ukuran : viii + 177 hlm; 14x 21 cm
Harga : Rp 35.000 (belum termasuk ongkos kirim JNE dari Tangerang)


“Kisah sejati selalu ada di setiap kehidupan manusia, hal yang manusiawi mengingat setiap orang menjalani keunikan hidupnya dengan takdir masing-masing. Andai ada kekecewaan dalam kisah sejati tersebut, perlu diingat bahwa setiap orang pasti melewati fase kekecewaan dalam hidup dengan bentuk apapun dan sebahagia apapun terlihat orang lain, jadi tidak perlu iri melihat kebahagiaan orang lain. Selamat belajar kehidupan dari kumpulan kisah sejati ini :) ”

Ari Wijaya, Penyiar Radio 103.4 DFM Jakarta,
Founder Komunitas Blogger Multiply Indonesia


Buku ini berawal dari lomba menulis untuk para blogger yang mengangkat tema “Berbagi Kisah Sejati”. Dari ajang tersebut terpilihlah para blogger yang akhirnya naskahnya dibukukan sebagai dokumentasi, juga kenang-kenangan. Juga menjadi pelajaran, bahwa beragamnya kehidupan, itu penuh dengan warna suka dan duka. Tak semestinya kesedihan itu berpanjangan, ada kalanya sedih berujung pada kebahagiaan.

Dua puluh lima kisah sejati para blogger, yang kadang tak sedikit menguras air mata saat membacanya. Di sini, dalam buku ini, ada blogger, berbagi kisah sejati.


================================

Tertarik dengan buku ini? Silakan pesan via SMS ke 085694771764 dengan Format : Nama, Alamat Lengkap, Judul Buku yg dipesan, Jumlah pembelian. Lalu Indiepro akan mengkonfirmasi ongkos kirim ke alamat kamu.

Setelah itu, kamu bisa transfer uang pembelian + Ongkos kirim ke no rekening berikut ini :

BCA no 0080346719 an Endah Widayati atau
BSM no 6007006333 an Dani Ardiansyah

Thursday, May 12, 2011

Sebatang Pohon Bisu




Aku sebatang pohon bisu. Apa bisaku...?
Hanya mendengar celoteh camar dan kisah-kisah yang diriwayat ombak.
Teriakku bahkan tak getar sehelai pun dedaunku
Tinggal isak sedu dibalik reranting
Masih saja aku...... mendengar cerita itu


Di dahanku ada sedu sedan sepasang Murai
Mengabar hujan telah enggan datang melainkan bersama murkanya
Dan angin telah sungkan berkelana melainkan dengan amuknya
Surya tak lagi ramah....    menggigit terik
Malam tak lagi lena.....    memelas culas


Ketika semesta berkabung...
Menyaksi peradaban telah tak kudus lagi
Nafsu berdaulat di jiwa-jiwa yang merasa jumawa
Dan berbangga diri telah menjadi agama baru


Telah lupa dari mana tempat semua itu berasal
Sungguh-sungguh mereka lupa....


Merintihku tak perduli kunjungan hujan
Memeluk sedihku memandang zaman
Dimana manusia telah semakin pandai, hampir segala keajaiban telah dalam genggaman
Namun semakin menjauh kesadaran, bahwa tiada semua jika tak bersama  Tuhan yang menciptakan


Memandang terpesona wajah rupawan 
Memandang indah harta berlimpahan
Memandang kagum tahta bertinggian


Seakan tiada lagi sekecil  bilik bagi si buruk rupa
Seakan tiada lagi sejengkal ruang bagi si miskin papa
Seakan tiada lagi setapak alas bagi si hina dina


Berluncuran hasrat duniawi mengatas nama Asma SuciMU
Tiada lagi malu.....tiada lagi lugu



Aku hanya sebatang pohon bisu...
Tiada bisaku melainkan hanya tasbihku
Melantun wirid mengasuh asaku
Mengubur dalam-dalam kesumatku


Kulepas sejauh tatap memandang
Sehelai daun salam terkatung-katung di tengah lautan
Tiada dayanya melainkan karena angin dan ombak bergelora
Sebagai hakikat makhluq yang sesungguhnya
Tiada bisanya, jika tiada Tuhan bersama mereka


Aku hanya sebatang pohon bisu...
Berkeluh......... tersedu......






********************************************************************
Keterangan :
Foto milik Keyboard Berita Tercepat dan Terdepan,The Largest Indonesia BloggerAda di Link ini : http://keyboardberita.blogspot.com/2010/10/lonely-trees-pohon-kesepian.html

Monday, April 25, 2011

Ketika Dia Berkata-Kata

Aku kembali terpaku
Hanya mampu diam membisu dan berlalu
Sedang kau masih bergelut dengan deritamu
yang menyayat-nyayat setiap sel-mu


Merintih...Walau dalam diam yang tertahan
Sering kau tak hendak menyusahkan orang
Namun kau harus menyerah saat keterbatasanmu memintamu tuk mengemis sedikit pertolongan



Tiada yang pernah mengerti inginmu
Walau kata simpati mengalir sungai ke arah pembaringanmu
Hanya kau sendiri yang mampu menterjemahkan derita itu
Dan menduga-duga, kapankah ini akan berlalu



Saat Dia berkata-kata dalam sunyimu
Melalui perih pedih di tubuh rapuh
Dan dakwa para cendekia menampar keras khawatirmu
Seakan hidup hanya mereka yang tahu


Kau merangkak mencari-cari sinar
Kemana kiranya tanganmu dapat  menggapai
Sedikit saja kesempatan
Tuk dapat sekedar menjangkau lebih banyak kebaikan


Terisak...
Tersedu.....
Menampak lemah diri di hadapan jagad QudrahNYA
Betapa kepandaian tak mampu menolong
Betapa limpahan harta tak dapat membantu
Betapa kerupawanan tak dapat membebaskan



Silih berganti siksa itu
Mengiris-iris setiap jengkal ragamu
Mencabik-cabik kekuatanmu
Hampir-hampir menghabiskan tabahmu



Namun kau  terus bertahan
Di samudra dzikirmu kau temukan titian
Yang membawamu pada fana
Ada DIA selalu bersama


Tak hirau kecamuk derita
Kau terus melafal Ar-Rahman
Bahwa tiada nikmatNYA yang dapat kau dusta
Telah meliputimu sekian lama


Melarung keluh dan putus asa
Ke lautan ikhlas dan kesabaran
Berharap tercerahkan



Saat Dia berkata-kata dalam sakitmu...
Dia menatapmu
Dia tak pernah melupakanmu
Dia menyayangimu...







Didedikasikan untuk para penderita penyakit kanker, yang kini tengah berjuang dalam lautan kesabaran dan ikhlasnya.
Semoga Allah yang Maha Menyembuhkan mengabulkan do'a-do'anya.

PS : Image taken by Google (Link : disini )

Wednesday, April 20, 2011

Wanita Di Persimpangan Jalan

Ini kisah usang tentang wanita
Tak didengungkan hadirnya namun terwarta
Menyibak tirai malu-malunya
Wanita ...
Memilih jalannya di persimpangan



Tak serupa rayap tak bermata
atau lemah sarang laba-laba
Wanita dikarunia berkah tak habis-habisnya
Tuhan sembunyikan dibalik lembut senyumnya



Sejak mula menjadi buah hati keluarga
Dikasihi Ibu dimanjakan Bapak
Ditimang disayang disanjung raga
Dididik santun berbudi bahasa


Anak wanita menjadi barang berharga
Tak izin seseorang mencacat eloknya
Jika datang lebah mendekat
Ayahpun garang tak boleh izinkan lekat


Beranjak tumbuh bagaikan bunga
Wanginya harum memancarkan aroma
Gemas orang hendak memetiknya
Wanita...
Selalu mengundang Sirama-rama


Banyak terkandung cita-citanya
Ingin terbang memuliakan karunia
Cerdik pandai dalam genggamannya
Wanita...berkibar sayap-sayapnya
Telah siap menaklukan dunia



Namun "dunia" tak selalu ramah padanya
Baik harapan tak selalu sebanding pada kenyataannya
Wanita dipaksa keluar dari kodratnya
Tanpa maunya Tanpa inginnya



Siapakah mereka yang berdiri di bebatuan cadas ?
Memukulkan palu menghancurkan batu keras ?

Siapakah mereka yang mengemudi ojek, becak dan sepeda ?
Walau penat menghantam tetap berlapang dada ?

Siapakah mereka yang mengais-ngais di timbunan sampah ?
Agar dapat membeli susu anaknya dan sekedar beras berharga murah ?

Siapakah mereka yang menjadi buruh bermandikan peluh ?
Merelakan diri, menjadi hamba disuruh-suruh

Siapakah mereka yang mengangkut karung-karung berat tuk  mengharapkan upah ?
Tak cukup rihlah tak cukup melepaskan lelah.

Siapakah mereka tergeletak di sudut-sudut jalan ?
Menghinakan diri menadahkan lengan

Siapakah mereka wanita-wanita tua  memikul nampan di kepala ?
Menjaja dagangan tak perdulikan renta

Siapakah mereka menyapu jalanan di pagi buta ?
Memungut sampah mensucikan kota

Lelah, sakit, lapar....
Di terik siang atau tajamnya angin malam


Mungkinkah  itu ibuku ?  mungkinkah itu saudara perempuanku ?
Allahu......
Mereka hamba-hambaMU
Sama mengharap lembut pertolonganMU


Di tanah kembara pula wanita menjela
Di tanah peperangan wanita juga berada
Diancam, dihina, disiksa, dianiaya
Tak pandang umur tak pandang usia
Raga dicacat
Jiwa diluka
Wanita, tak henti dibuat lara


Entahlah lagi bagi kaum ini
Berlenggak-lenggok kesana kemari
Ingin membuktikan kecantikan diri
agar dipuja para lelaki


Mengais rezeky di malam hari
Menawarkan kehangatan diri
Demi setangkup rupiah
Harga diri dibuat murah



Tesssssss...........


Gerimis basahi paras
Hampir-hampir padamkan lentera
Menggenggam sekeping bara masih menyala
Mungkin masih bisa hangatkan sudut jiwa
Terbata-bata memeluk kesucian makna


Wanita, di persimpangan jalan