Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, August 9, 2010

Menjadi Diri Sendiri (Yang Asyik...)

Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun mendapat jatah "gubuk" di dunia maya ini dan mulai berkenalan dengan "tetangga" kiri kanan hingga kini cukup banyak teman yang berbaik hati mau berteman dengan seorang winny ini. Sebagaimana bergaul di dunia nyata (nyata dalam arti bertemu fisik) bergaul di dunia maya pun (bagi saya sebetulnya dunia internet dunia nyata juga, karena percakapannya nyata walaupun hanya dalam bentuk tulisan dan yang menulisnyapun ada, yang menulis dan punya akun FB atau punya blogpun bukan dari kalangan bangsa jin ya hehehe) sama saja menemukan banyak pengalaman dan kesan tersendiri. Sebagaimana diri saya bisa dinilai orang, maka saya pun mempunyai kesan atas pribadi seseorang yang menjadi teman saya.


Sekian lama bergaul dengan anda, dia, mereka, membuat saya teringat dengan kisah keluarga Luqman yang pernah diceritakan kisahnya saat saya masih kecil (entah mengapa kisah ini disebut kisah keluarga Luqman, apakah kisah ini berangkat dari sebuah hadist ? Yang punya nama Luqman, maaf bukan salah bunda mengandung ya...  hehehe). Kisah seorang ayah dan putranya yang melakukan perjalanan menuju satu tempat bersama keledai mereka. Ada yang masih ingat ? Kalau ada yang lupa, saya bantu mengingatkannya, begini ceritanya :


Tersebutlah seorang ayah dan seorang anak hendak melakukan suatu perjalanan menuju ke suatu tempat dengan keledai mereka. Sang ayah duduk di atas pelana keledai itu, sedang anaknya berjalan mengiringinya. Saat mereka berpapasan dengan seorang pengembara, sang ayah ditegur oleh pengembara itu :

"Sungguh menyedihkan kedaan kalian, bagaimana mungkin kau bisa membiarkan anakmu kelelahan berjalan kaki sedang kau enak-enakan menunggangi keledai itu ?".
Sang ayah termenung, menyadari kesalahannya akhirnya dia turun dari keledainya dan mengizinkan anak remajanya mengendarai keledainya, sedang dia sendiri kini berjalan kaki. Namun, tiba di suatu tempat, mereka berpapasan dengan seorang ibu yang memperhatikan mereka, dan ibu itu pun menegur mereka dengan nada prihatin :

"Hai pemuda, sungguh kau telah berlaku tidak sopan kepada ayahmu. Kau yang masih muda dengan enaknya menunggangi keledaimu, sedang ayahmu yang sudah tua kau biarkan berjalan kaki. Sungguh tidak terpuji keadaannmu".
Mendengar teguran si ibu tersebut, keduanyapun berhenti dan merenung dan membenarkan ucapan wanita tadi. Maka keduanya kini naik ke atas keledainya dan meneruskan perjalanan. Di tengah kota, orang banyak memperhatikan mereka, terdengar mereka berkat :

"Sungguh celaka kalian berdua, bagaimana mungkin keledai sekurus itu kalian tunggangi berdua, tidak sampai dua puluh langkah keledai itu pasti mati kelelahan."

Kedua ayah beranak itupun berfikir lagi, kali ini keduanya memutuskan untuk tidak menunggangi keledai mereka. Mereka menuntun keledainya dan meneruskan perjalanannya. 
Saat mereka hampir mendekati tempat yang akan mereka tuju, bertemulah mereka dengan seorang laki-laki gagah yang terpingkal-pingkal mentertawakan mereka, laki-laki itu berkata :

"Hahahaha....lihat orang tua dan anak itu benar-benar bodoh, mereka memiliki keledai yang kuat tapi mereka  sia-siakan. Mengapa tidak mereka jual saja keldeai itu daripada menyusahkan mereka ? hahahaha"
Sampai disini Luqman dan anaknya pun kebingungan lagi apa yang mereka lakukan serba salah. Akhirnya mereka berdua pun menjual keledai mereka. 
STOP (kalau dilanjut, ceritanya nggak selesai-selesai, nanti pasti ada masalah lagi setelah mereka menjual keledainya ya)


Hmm...bergaul dengan orang pun bisa sebingung mas Luqman eh Syekh Luqman di atas kalau kita tidak mandiri dalam bercara pandang, berpemahaman, berkeyakinan hingga bertindak. Kita akan selalu dibingungkan dengan apa maunya orang lain.


Teman-teman kita mungkin ada yang 'berhaluan barat' bisa jadi bergaul dengan mereka kita akan digiring pada suasana heroik, serba ideal, berhati-hati, sindiran-sindiran halus untuk hidup benar dsb. Ada juga mungkin teman yang 'berhaluan timur' bergaul dengan mereka bisa jadi kita akan merasakan atmosfir yang berapi-api, selalu mengeluhkan keadaan, protes sana protes sini, orang tidak ada yang benar pemikirannya kecuali pemikiran mereka. Bisa jadi kita punya teman 'berhaluan utara' yang serba santai, hidup "yang easy man", pembicaraan mereka seputar 'Besok makan dimana ?", senang bersosialisasi sana-sini, setiap bulan sepanjang tahun ada jadwal reuni fakultas,SMA,SMP hingga reuni TK. Mungkin masih ada teman yang 'berhaluan selatan/tenggara/barat daya/timur laut dan sebagainya (kepada arah mata angin saya mohon maaf meminjam kalian sebagai perumpamaan ya) yang memiliki kekhasan tipikal dan menghembuskan aroma pertemanan yang berbeda-beda.


Jika kita memiliki obsesi untuk menjadi pribadi yang "diinginkan" keberadaannya oleh siapapun mereka dengan haluan yang berbeda-beda itu, maka bersiap-siaplah menjadi "Confused person of the year" bahkan "confused person of the life forever and after". Karena kenyataannya kita tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang walau bagaimanapun kita menginginkannya. Tidak ada pribadi yang memiliki kesamaan yang absolut.Bahkan dua anak kembar identik sekalipun tetap memiliki kekhasannya dan hasratnya sendiri .


Oleh sebab itu bertemulah saya kini dengan kedalaman makna dari ayat dalam Al-Qur'an yang menyebutkan firman Allah :
" Allah menciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal" (QS, Al-Hujurat : 13). Saling mengenal bukan untuk saling menghakimi, bukan untuk saling menyalahkan satu sama lain. Toh memang Allah telah menciptakan kita semua berbeda-beda.Tapi sebaiknya didalam pergaulan kita tetap berusaha menjadi orang yang asyik, dalam arti berusaha untuk bisa menempatkan diri dengan baik dimana kita sedang berada. Memamerkan kefanatikan atas ide/keyakinan pribadi di tengah publik yang jelas amat beragam ini adalah sikap yang kurang bijak dan sia-sia, apalagi sampai memprovokasi bahkan melecehkan orang yang memiliki 'pendirian' berbeda.

Tetaplah dengan keadaanmu jika hal itu kau yakini benar, tetapi sertailah ia dengan menghargai orang lain yang berbeda denganmu. Sesudah itu, let's make a better place for you and for me (kata Michael Jackson).

Tidak sampai dua hari lagi kita bertemu bulan mulia Ramadhan, atas tulisan-tulisan saya yang tidak berkenan di hati, kiranya sahabat-sahabat sudi untuk memaafkan. Semoga masih diberi kesempatan menjalankan ibadah shiyam dengan lancar, amiin.
Jaga hati, jaga kesehatan, salam untuk keluarga ya...

Wassalam

Thursday, July 15, 2010

Renungan Bersama Semangkuk Mie Instant

Bismillahirrahmanirrahiim

Malam ini, sambil menikmati semangkuk mie instan (yang dengan gagahnya tidak aku rekomendasikan untuk makanan anak-anak karena bukan makanan sehat) seperti biasa aku mulai merapat di seperangkat alat menulisku ini. Karena tangan kanan kugunakan untuk menyendokkan mie ke dalam mulutku, maka tangan kiri kutugasi untuk meng-klik mouse-ku ke alamat-alamat rumah menulis teman blogku.

Dengan semangkuk mie ditangan aku mulai berselancar menemui catatan-catatan teman yang sangat berharga dengan aneka genre dan gayanya. Aku tidak berhenti bersyukur, ajaib sekali media internet ini memberiku banyak informasi, tanpa harus bersusah payah mengunjungi toko-toko buku, atau mampir di emperan jalan untuk membeli koran, namun aku bisa mendapat beraneka bacaan yang menurutku apapun itu, apakah postingan-postingan itu berupa artikel, cerpen, puisi, prosa, essay,  review buku atau film, atau sekedar curhat semuanya memberiku manfaat yang luar biasa dan kukira untuk teman-teman pun demikian.
Kita bisa mengetahui banyak hal dengan membaca tulisan-tulisan mereka, nambah ilmu kata orang, bahkan kita bisa menduga-duga seperti apa kira-kira karakter dan gaya hidup teman blog kita itu.

Merenungi semua catatan-catatan itu membuatku teringat dengan masa laluku. Masa lalu yang belum terlalu lama meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya, entahlah aku tak tahu. Tetapi yang pasti pada saat aku berpisah dengannya aku telah membuat suatu keputusan besar, keputusan yang merubah lagi diriku, jiwa dan pemikiranku setelah sebelumnya diriku, jiwa dan pemikiranku telah diubahnya selama betahun-tahun pula.
Aku merasa menjadi manusia baru dimana kehidupanku dimulai. Terkadang muncul penyesalan mengapa kesadaran itu terlambat datang, namun keyakinan bahwa tidak ada yang terjadi dan terwujud dalam kehidupan ini kecuali karena izinNYA maka aku meyakini inilah jalanku yang DIA kehendaki untukku. Maka aku tak keberatan sama sekali. Apalah artinya lama dan sebentar, tepat waktu atau terlambat dalam perhitunganNYA, selama kita mau menggunakan "mata", "telinga", akal dan hati kita untuk menangkap isyarat-isyaratNYA.

Dari sejarah belasan tahun di masa laluku  itu aku belajar, bahwa manusia bisa sangat naif. Naif bisa jadi karena kemudaan usia dan kepolosan informasi dan pemahamannya sehingga pada saat datang orang dengan membawa pemikiran baru yang nampak "hebat" apalagi mengatas namakan "kebenaran" dengan menggadang-gadang ayat-ayat Tuhan dalam KitabNYA maka dengan mudahnya kita dan sebagian banyak anak-anak muda yang tergiur olehnya lalu masuk kedalam lubangnya.

Jiwa-jiwa heroik seketika bermunculan seakan-akan berdiri di atas kebenaran sejati. Sehingga terkadang bahkan sering lupa bahwa kebenaran itu bukan kita yang punya. Kebenaran hakiki hanya milik Tuhan semesta alam yang Allah asmaNYA. Karena "lupa" inilah sering terjadi fanatisme berlebihan yang lahir dari doktrin-doktrin yang sesungguhnya lahir dari pemikiran manusiawi juga, penafsiran-penafsiran ayat yang diragukan apakah benar telah ditafsirkan dengan tepat oleh yang berhak dan sah. Oleh sebab itu karena telah mengalami penafsiran yang khawatir telah disesuaikan dengan berbagai kepentingan, maka terjadilah menurut saya fanatisme yang tidak lagi proporsional,  fanatisme yang tidak lagi berfihak kepada Allah dan RasulNYA yang sering didengung-dengungkan, melainkan fanatisme pada golongan/ kelompoknya sendiri-sendiri Fanatisme yang ashobiyah. Sehingga bukannya mendatangkan rahmat melainkan menambah alat pemecah belah lagi untuk umat yang telah kebingungan ini.

Saat itu, duniaku seakan hanya "disitu" saja. Tak berani bahkan menengokkan kepala keluar, takut terbilang tak konsisten. Tidak ada referensi yang benar "diluar sana" yang benar hanya yang bersumber dari "dalam". Bahkan jikapun referensi itu, masukan-masukan itu datang dari orang tua kita sendiri, dengan gagahnya akan kita sanggah, karena mereka bukan dari "kalangan sendiri". Sikap-sikap pengingkaran tanpa sadar telah dijejalkan, bahkan kepada orang tua sendiri jika mereka bukan dari komunitas yg sama. Komunitas yang mengagungkan ideologi tanpa tuntunan asli memang akhirnya akan menimbulkan keheranan tersendiri pada pengikutnya. Aku dapat memastikan itu karena ternyata bukan hanya diriku yang mengalami kebingungan itu, banyak yang akhirnya terpental juga, padahal dahulu mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat berintegritas dalam mngusung ideologi tersebut.

Kefanatikan yang tidak berdasar pada sumber yang benar,menimbulkan sikap-sikap ekstrim dalam bermasyarakat. Sikap hati merasa diri dan komunitas yang paling benar, sementara yang lain salah mengkristal  dalam paradigma yang berakibat mengkristal juga dalam sikap.Sikap bahwa barangsiapa "berdiri" di luar komunitasnya maka tidak dijamin berada dalam kebenaran, seluruh amal shalehnya sia-sia. Kefanatikan yang telah membawa pada sikap-sikap penghakiman atas manusia lain bahwa mereka berada diatas kesalahan, apapun yang diusahakannya sekalipun dia mengaku muslim. Sesuatu yang membuat hati miris, sedang kita tahu dan mereka sendiripun menyadari bahwa mereka tidak maksum, namun dengan mudah menilai orang lain golongan dzalim, fasik bahkan kafir.

Sikap fanatisme ini menutup pintu keterbukaan atas masukan-masukan dari "luar" komunitasnya. Bahkan  Saya teringat pada artikelnya mas Roni Djamaludin dimana hal tersebut diatas disebutnya sebagai penyakit persepsi. Di salah satu paragrafnya tertulis :

Kebiasaan ini kalau dibiarkan berlanjut, dapat memperparah endemi “penyakit persepsi” yang selama ini ada. Menyuburkan sikap diskriminatif satu sama lain, karena cenderung melihat kelebihan (kemampuan) seseorang (mungkin juga kelompoknya) dan memandang remeh yang kebetulan tidak punya kelebihan. Bisa menimbulkan faham-faham baru yang pada saatnya nanti bisa berubah menjadi “bom waktu”. Pada gilirannya, dapat merongrong nilai-nilai kebenaran, yang notabene satu-satunya pemiliknya adalah Tuhan sendiri (Al Haq min Rabbika).

Tidak mudah mengakui hal ini jika kita masih berada di dalam pusarannya, karena doktrin-doktrin "lembaga" terus ditanamkan dan apalagi jika kita sendiri sudah berada pada level pemberi doktrin kepada para junior. Walaupun dalam hati kecil sudah merasakan banyak kejanggalan namun apa daya, sebagai motivator kita harus tetap dalam "posisi yakin dan meyakinkan". Disinilah faktor 'Hati Nurani' sangat dibutuhkan, pada saat sensor nurani kita telah membunyikan signal ketidak beresan maka kita harus bersiap dan bersegera menentukan pilihan. Bukan dengan mengabaikannya karena takut dengan pendapat orang atau menyayangkan keberadaan kita yang sudah bertahun-tahun disana. Karena nurani kita bersifat hanif, cenderung pada kebenaran, maka dengan pertolongan Allah walaupun terasa sulit DIA akan menunjuki caraNYA.

Darimana kita bisa tahu sensor hati nurani telah mengirimkan tanda? Jawabnya adalah pada saat kita merasakan ketidaksesuaian antara yang dipropagandakan dengan yang dilaksanakan. Ketidaksesuaian antara doktrin-doktrin yang dipancangkan dengan kenyataan di lapangan. Pada saat kita merasa ayat-ayat Allah telah menjadi alat pelegalan untuk memanipulasi  hak-hak manusia khususnya sesama muslim. Hanya perkenan Allah saja yang telah menolongku. Alhamdulillah, Allah memberi jalan bagiku dan keluarga untuk bisa keluar dari situasi itu.

Oleh sebab itu walau aku telah belasan tahun "tumbuh" dalam didikan dan bentukan komunitas itu, namun kini Allah terus menambahkan dan menambahkan banyak hikmah dan kesempatan yang luas kepada saya dan keluarga untuk menghargai kehidupan ini, menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan profesional di bidang kita masing-masing namun disertai dengan senantiasa mendzikiriNYA, menjadikanNYA maksud dan tujuan akhir perjalanan kita di dunia ini, menjalani qudrah iradahNYA dengan taqwa sebagai pancatan/tangga agar dapat pulang dengan selamat kembali kepadaNYA.

Hmm kuseruput tetes kuah terakhir mie instant-ku, ternyata ada nikmat Allah yang bisa kurasakan juga dalam makanan yang selalu kuanggap tidak sehat ini. Jangan-jangan aku pun sudah terkena sindrom penyakit persepsi, mengamini kata banyak orang bahwa mie instant itu penyebab penyakit kanker karena bahan pengawet dan MSG-nya. Padahal kalau dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan, mie instant bisa juga menjadi teman.

Kunikmati malamku dalam kesederhanaan dengan semangkuk mie instan.
Alhamdulillah

Sunday, June 13, 2010

Menang atau Profesional ?

Bismillah

Segala puji hanya milik Allah yang memberiku rasa senaaang hari ini (mudah-mudahan nggak terlalu ya). Walaupun agak terlambat tapi syukurlah akhirnya bisa tahu informasinya. Tulisanku yang diikutkan pada Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan mbak Anazkia  dan disponsori oleh Denaihati beruntung mendapat peringkat ke-3 dari 89 peserta yang mengikuti kontes ini. Judul kisah yang aku ikutkan di kontes itu adalah Gerobak Untuk Anakku


Ini lomba pertamaku yang mendapat penghargaan dari ajang festival atau kontes tulisan, jadi buatku sangat berarti. Tapi, bagaimanapun, aku tetap meyakini bahwa mungkin juga ini hanya so'al keberuntungan saja, soal rezeky. Allah yang menggerakkan para juri itu menentukan pilihannya, so aku berusaha untuk tidak terlalu senang jika mendapat kemenangan begitu juga berusaha untuk tidak terlalu kecewa jika mendapatkan kekalahan.

Tidak hanya satu kontes yang aku ikut terlibat di dalamnya, kuikuti beberapa lomba lainnya seperti yang terakhir lomba Puisi Kocak-nya mbak Fany yang ditemani mbak Fanda dalam penjuriannya atau lomba Pre-Review-nya mbak Clara tapi dalam lomba-lomba itu aku belum beruntung. Dalam keyakinanku, Allah juga yang menggerakan para juri itu untuk tidak memilihku menjadi pemenangnya dan juga peserta-peserta lain yang ber"nasib" sama denganku.

Intinya adalah mengikuti lomba-lomba semacam itu sangat positif dan besar manfaatnya untuk membuat kita lebih terpacu untuk berkarya dan berkarya. Menjadikan tulisan sebagai media untuk kita bisa saling menginspirasi, saling memotivasi, saling mendukung satu sama lain, sebagai wujud persahabatan dan persaudaraan khususnya antar para nara-blogger.

Tidak masalah untuk menjadi pemenang ataupun tidak, walaupun motivasi awalnya tentu saja para peserta lomba sangat mengharapkan kemenangan. Namun kembali ke awal, semua hanya masalah rezeky dan masalah waktu yang bisa jadi jalannya adalah masalah selera juri hehehe. Betul kan?


Masalah selera ini memang sulit diganggu gugat, karena hal ini masalah rasa yang setiap orang berbeda-beda ambang penerimaannya. Misalnya waktu ada pengumuman lomba pemenang puisi kocak, yang menurut jurinya diantara semua peserta yang menyertakan puisi kocaknya nyasulit sekali menemukan puisi yang bisa membuat mereka sekedar mesem apalagi sampai tertawa berguling-guling (hehe ini kutipan dari kata-katanya mbak Fanny lho), padahal dalam penilaianku, saat aku berjalan-jalan membaca puisi-puisi kocak peserta lomba itu banyak yang bikin aku ketawa-ketawa sendiri kecuali puisi kocakku (lho...?) karena aku memang menyadari dalam kehidupan sehari-hari aja susah bikin orang ketawa dari lawakankku kecuali anak-anakku (itu juga sesudah diancam dibujuk harus ketawa,  kalo tetep cembeluut,  nggak akan dikasi donat kesukaan mereka hihihi). Jadi, ternyata apa yang bisa bikin aku kayak orang GeJe karena ketawa-ketawa sendiri (berdua deng sama monitor), ternyata belum tentu bisa membuat para juri itu terangkat bibirnya walaupun cuma yang sebelah kanaaan aja, apalagi sampai terpingkal-pingkal.


 Mungkiiin, keberuntunganku kali inipun karena kebetulan aja tulisanku agak-agak sesuai seleranya juri, padahal bisa jadi diantara peserta lain yang baca kisahku itu berfikiran :"Masa' sih yang kayak begini bisa dapet peringkat tiga?" atau "Yaah cuma segini aja, kira'in bagus" hehehehehe.... bukannya su'udzan ya (berprasangka jelek kepada orang lain) ini hanya ber mungkin-mungkin aja karena memang aku mengalaminya juga.


Yang bisa aku ambil hikmahnya adalah ketika kita memiliki satu keterampilan berkarya dan sekaligus cita-cita besarnya akan hal tersebut, maka harus diiringi keprofesionalan dan keikhlasan (tanpa pamrih) sehingga bagaimanapun penghargaan orang atas karya kita, maka tetaplah kita sebagai pemenangnya karena kita sudah berintegritas atas usaha kita sendiri.


So...keep try and be professional...
Semoga apa yang kita usahakan disukai Allah, disukai juga hamba-hambaNYA, aamiin...

PS : Untuk mbak Anazkia dan Denaihati terimakasih banyak atas apresiasi dan hadiahnya, sangat berarti dalam hatiku (^;^)

Friday, June 11, 2010

Cemburu

"Apa !!, cemburu ?, Sudah bukan itu perso'alannya, aku hanya merasa terhina, dia memintaku sembunyi di balik dinding tebal, menebalkan gincu bibirku hanya untuknya,  dia sendiri bebas melempar pandangan dan khayal liarnya pada wanita jalang".


*Sebuah ungkapan pedas seseorang atas "kecurangan" kekasihnya*

Sering kita melihat, sebuah fenomena yang dinamakan orang dengan istilah 'Cemburu' dimana bisa saja awal kejadiannya berbeda-beda pada setiap pasangan.

Mungkin saja hal itu dipicu manakala sepasang suami istri sedang berjalan-jalan di sebuah mall tiba-tiba berpapasan dengan mereka seorang wanita cantik berpakaian seksi atau bisa jadi wanita itu berpakaian tertutup namun tetap terlihat sangat cantik, lalu tanpa disadari sang suami melirik wanita itu, agak lama dan sang istri mengetahuinya.

Atau bisa jadi tanpa disengaja seorang wanita mengetahui kekasihnya diam-diam melihat-lihat dengan seksama foto album seorang wanita cantik teman facebooknya. Atau tiba-tiba ia melihat jejak pacarnya telah melakukan chatting di internet dengan seorang rupawan selain dirinya.


Banyak kejadian seperti itu yang dapat menjadi awal mula sebuah perselisihan terjadi yang dapat berakibat rusaknya sebuah hubungan.
Lalu jika salah satu fihak yang merasa di"selingkuhi" walaupun masih pada tahap "main mata" itu bereaksi apakah hal itu salah?
Tentu saja hal itu akan sangat tergantung bagaimana reaksi itu diberikan dan reaksi akan bergantung pula pada apakah dia mengetahui sebab-sebab mengapa"main mata" itu terjadi.


Sering fihak yang merasa dicemburui oleh pasangannya (katanya, kebanyakan kaum pria) merasa tidak nyaman dengan kesensitifan pasangannya saat kekasihnya itu mengetahui "kenakalannya" . Mereka akan dengan mudah menyatakan bahwa pasangannya itu 'Cemburuan' atau 'Curigaan'.
Padahal jika ditelusuri apa yang terjadi pada perasaan fihak yang merasa "dikhianati" (biasanya kebanyakan kaum wanita) akan terungkap bahwa mereka bukan cemburu atau curiga secara membabi buta dan otomatis menuduh kekasihnya telah berkhianat besar kepadanya.
Seperti yang terungkap dalam kata-kata di ungkapan di atas, reaksi yang diberikan oleh fihak yang merasa "dicurangi" (katanya kebanyakan kaum wanita) adalah bahwa sesungguhnya "cemburu" yang dialamatkan kepada mereka adalah sebuah tuduhan yang tidak adil, mereka hanya merasa tidak dihargai, tidak dihormati keberadaannya sebagai seseorang yang telah menjadi teman hidup bukan sekedar teman ngobrol atau teman remeh temeh lainnya bagi kekasihnya.





Sebuah fenomena yang sesungguhnya semuanya berhilir pada merajalelanya hawa nafsu. Dimana mata penglihatan manusia memang menyukai hal-hal indah untuk dilihat. Dan lebih jauhnya hal-hal indah untuk dirasakan. Selama berada pada track yang  benar maka hal itu tidak menjadi masalah. Oleh sebab itu dalam agama Islam (karena itu yang saya ketahui walaupun sedikit) ada tuntunan tentang menjaga pandangan dan menjaga hati. Tertera dalam kitabNYA bahwa:


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ".
QS. an-Nur (24) : 30

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
QS. an-Nur (24) : 31


Wallahu a'lam.
Hanya menyimak fenomena, selanjutnya..terserah anda (^;^)

Keep spirit !

Thursday, May 6, 2010

Romantika Ibu Sri Mulyani Indrawati...

Bismillahirrahmaanirrahiim


Hmm kasus bu Sri Mulyani Indrawati (SMI) sangat inspiratif. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, bagiku pribadi ada catatan khusus.


Saya jelas-jelas tidak mengetahui dan tidak berhak menghakimi apakah dalam kasus dana Baillout Bank Century, akhirnya Ibu SMI memiliki status apa (walaupun jauuuhh dalam lubuk hati ini ada harapan besar dan persangkaan baik bahwa beliau memang benar-benar orang berintegritas tinggi/amanah dan benar-benar telah "menolong" kondisi Indonesia saat itu). Saya hanya ingin mengulas tentang keberadaan Bu SMI dan "jagad" disekitarnya dengan beraneka ungkapan pro dan kontra.


Betapa saya melihat berita-berita baik di TV maupun internet di satu sisi oleh musuh-musuh politik fihak pemerintah dimana ia bekerja selama ini beliau dihujat, sudah sampai pada fase dihina, dilecehkan habis-habisan. Di kantor DPR maupun di tempat-tempat seminar yang mengundangnya, beliau diboikot oleh sekelompok orang. Pada saat kehendak para penentangnya telah dipenuhi yaitu diajukannya beliau ke ruang hukum yaitu pemeriksaan oleh KPK (dan belum tentu statusnya akan dinaikkan menjadi tersangka) para penentang yang sudah senang itu kembali meradang karena KPK memeriksa wanita ini di kantornya (mereka maunya Ibu Sri Mulyani diperiksa di kantor KPK). Dari sejak awal dihembuskan isu, sampai terbentuknya Pansus Century beberapa anggota DPR menunjukkan kehendak mereka agar Ibu SMI non-aktif namun belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Ibu SMI tetap aktif  mereformasi dan melahirkan kebijakan-kebijakan restrukturisasi di tubuh Kemenkeu termasuk di departemen  perpajakan.


Diluar dugaan semua fihak, termasuk saya yang bodoh ini ada berita mengejutkan tentang rencana mundurnya Ibu SMI sebagai menteri keuangan. Tadinya saya berfikir, "wah..Ibu SMI menyerah juga. Mungkin beliau lelah dihujat terus menerus, diboikot, dihina oleh orang-orang yang dulu notabene sudah ditolongnya saat menjadi menteri keuangan periode lalu". Namun ternyata, kemundurannya ini membuat banyak mata terbelalak (walau ada juga yang malu-malu mengakuinya), ternyata kemundurannya ini karena ada tawaran dari lembaga internasional yang prestisius (setidaknya dalam pandangan manusia, saya tidak bicara hakikat) yaitu World Bank, diminta langsung oleh Presidennya sendiri Robert B Zoellick Saya baca di detikNews berbagai tema tentang Ibu SMI sehubungan dengan pengangkatannya oleh Bank Dunia itu mendapat reaksi besar di masyarakat. Begitu juga di Facebook, yang hasilnya sebagian besar mendukung Ibu SMI.
Subhanallah


Kalau baca komentar-komentar orang di DF itu aduuh, menunjukkan bagaimana pandangan "rakyat" yang sesungguhnya yang berada di luar gedung DPR. Komentarnya banyak yang frontal, keras tapi nggak tahu kenapa juga saya banyak tertawa terpingkal-pingkal bacanya, kebayang orang-orang ini ada di satu forum saling timpal, saling celetuk, lucuu. Padahal udah tengah malam lho...yaa hitung-hitung hiburan sekalian ronda aja deh :).


Kembali ke topik awal. Jadi segala badai yang menerpa di luar dirinya, saya "melihat" Ibu SMI ini tetap dalam ketenangannya. Biasanya kalau yang punya mental lemah, paling tidak ada pernyataan-pernyataan bela diri lah di media untuk mengcounter sementara pendapat para pengamat ekonomi dan politikus yang menentangnya itu. Apalagi perempuan yang biasanya dikenal sebagai makhluk yang lemah dan mudah tersakiti. Yang saya lihat di hari-hari itu bu SMI tetap "cool" dan menjalankan aktivitasnya secara wajar yang mungkin itu hadir karena beliau memiliki hujjah atas seluruh keputusannya selama ini, dan menurut beliau segala keputusannya hari ini dan termasuk pada saat beliau memiliki amanah di Kemenkeu dulu adalah undang-undang. Dan beliau menyatakan diri siap untuk berdialog tentang hal itu.Walaupun akhirnya mentok juga. Buktinya para anggota dewan yang "terhormat" itu sebagian ada yang walk out karena menganggap beliau bermasalah.

Nah peristiwa pengangkatan oleh World Bank inilah seolah-olah ada peristiwa "Saved By the Bell" baik oleh lawan politik maupun kawan politiknya dengan makna yang berbeda. Yang menarik untuk saya adalah, apakah dengan datangnya tawaran dari institusi bergengsi dunia ini Ibu SMI tergoyah? maksudnya apakah jiwa Ibu SMI menjadi berubah? Segala kelebihan dan kekayaan jiwanya menjadi tereduksi oleh tawaran ini? Saya kira sebagai saudara satu bangsa, satu tanah air apalagi saudara satu agama pantas bagi kita untuk mendahulukan berprasangka baik dan mengharap serta mendo'akan semoga kehadirannya di lembaga dunia itu  membawa manfaat yang banyak untuk umat manusia termasuk Indonesia. Saya tidak tertarik untuk membahas masalah teori konspirasi dsb yang selalu dihembuskan para politikus atau dari sebagian masyarakat. Justru saya mempunyai impian begini:


Sebagaimana yang telah terjadi di masa Nabi. Nabi Yusuf as. masuk / inviltrasi ke dalam tubuh sebuah rezim tiran masa itu atas izin Allah. Dan menunjukkan ayat-ayat Allah di dalamnya lalu menjadi cahaya kebenaran di pusat kekuasaan sehingga berbalik menjadi pengendali pemerintahan yang bersih dan diberkahi Allah. Nah untuk masuk ke dalam rezim itu kan butuh skill dan wawasan yang bisa dibanggakan sehingga melahirkan kepercayaan mereka. Kalau latar belakangnya tidak seperti Bu SMI mungkin World Bank juga males mau ngangkat orang Indonesia menjadi salah satu direkturnya. Ambil sisi positifnya aja. Bukankah dalam agama kita diwajibkan untuk berhusnuzhan. Mencari-cari kesalahan sesama itu tidak diperbolehkan, apalagi orang itu pernah banyak berjasa membuat banyak kebaikan bagi masyarakat.



 Kalau keberadaan Ibu SMI di World Bank itu sebuah karunia dari Allah misalnya (setidaknya untuk Ibu SMI dan keluarganya) ya kita do'akan semoga menjadi kebaikan juga untuk bangsa ini bahkan lebih jauhnya masyarakat internasional yang masih hidup dalam kemiskinan. Kalau masalah hukum ibu SMI di Indonesia belum selesai ya semoga juga menjadi kebaikan, jangan menjadi penderitaan lagi yang ditambahkan kepada masyarakat ini. Yang penting kita harus lebih banyak "belajar" terutama belajar dari setiap kejadian dan mengambil hikmahnya agar kita dapat selamat sampai kepadaNYA.



Monday, May 3, 2010

Jangan Yang Tersisa .........

Sejak seorang ibu mengandung putra/i dalam rahimnya dan sang ayah menyadarinya, telah terkandung pula bersamanya tekad untuk memberikan yang terbaik. Ibu makan makanan yang bergizi, dia minum minuman yang bernutrisi.  Ayah siapkan bekal untuk kehadiran tamu istimewa ini. Dibelinya baju-baju untuk calon bayi yang terlucu yang bisa dia beli. Disiapkannya segala perlengkapan untuk memuliakan kehadiran sang bayi.



Apabila waktu berjalan dan bayi dalam rahim Ibu semakin membesar, semakin bertambah cobaan di dalam diri. Mual dan pening setiap hari. Tidur telah tak nyenyak lagi. Sementara tugas sehari-hari tetap menanti. Seorang Ibu tak bisa barang sejenak berhenti dari kebaikan, apalagi jika ada anak-anak kandung  lain yang meminta diberi perhatian dan kasih sayang. Ayah yang pemurah tempat berbagi tanggung jawab, ia menjadi teman dalam kerisauan menghadapi hari-hari saat tiba hari kelahiran. Bersama Ayah, Ibu menghadapi setiap cobaan Tuhan. Berharap yang terbaik bagi sang jabang bayi yang dirindukan.



Tiba saatnya perih pedih di perut Ibu. Seribu sakit dan derita menjadi satu. Tak ada yang dapat turut merasakan nyeri di tubuh rapuh. Hanya kepada Allah tempat Ibu mengadu.
Badan bergetar, sakit dan ngilu diseluruh badan, darah bersimbah mengiringi kelahiran. Terkadang Ayah harus mencari pertolongan agar Ibu dapat bertahan. Tak tertahan lagi taqdir dari Tuhan. Akhirnya sang bayi lahir di pangkuan. Disambut haru dan airmata bercucuran. Ayah mencium dan mengumandangkan Iqamah dan Azan. Agar Asmanya Tuhan yang pertama hadir di pendengaran.



Allaahu Akbar...



Tibalah hari-hari melelahkan. Hari-hari penuh cobaan. Sekaligus hari penuh pahala dan keberkahan.
Ibu merawat, menyusui dan menidurkan...
Mencuci pakaian dari segala kotoran...
Ayah bekerja menjemput harapan
Agar dapat memberi yang terbaik untuk istri dan anak    



Jika anak telah dewasa, tak berhenti kasih sayang dan tanggung jawab diberikan
Untuk  pendidikan terbaik sang anak, terkadang Ibu harus menjual perhiasan kesayangannya
Jika anak terbaring sakit, terkadang Ayah harus mendatangi pintu orang mengharap uang pinjaman
Jika anak menginginkan sesuatu "kelapangan dunia", Ayah dan Ibu rela menjadi "berkurang dan sempit dunianya" karenanya 



Selama hayat dikandung badan
Ayah dan Ibu akan selalu berjuang
Diliputi do'a-do'a bertuah mereka
Untuk sang anak tumpuan harapan




KINI TINGGALAH PERTANYAAN BESAR



Mengapa Allah telah berfirman
Bahwa Ayah dan Ibu semua insan
Telah menjadi yang kedua setelah Tuhan
Tempat syukur setiap anak dipersembahkan



Walau bagaimanapun keadaan tuan
Baik kelapangan ataupun kesempitan
Jangan yang tersisa yang kau berikan
Kepada orang tua yang melahirkan membesarkan



Jika ada waktu dan tenagamu tersisa, baru kau luangkan untuk sekedar mengunjungi mereka
Jika ada uang dan hartamu tersisa baru kau sisihkan untuk "jajan" mereka
Jika ada ruang di rumahmu tersisa baru kau persilahkan menjadi tempat berteduh mereka
Jika ada sedikit bakatmu tersisa baru kau tuliskan puisi sederhana untuk mereka
Jika ada ingatanmu tersisa baru kau panjatkan do'a pendek untuk mereka



Sedang selama hidup sejak kita dilahirkan , Ayah dan Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk kita
Masa muda mereka telah habis untuk mencintai kita dan mewujudkannya
Walau siapapun berkata itu telah menjadi kewajiban mereka
Namun tetaplah kita tak lebih berharga dibanding jerih payah mereka telah menyayangi dan mencinta
Seberapa besarpun kita berusaha menggantinya
Tak pernah bisa kita membayar harga pengorbanan dan ketulusan mereka




Hanya satu yang Tuhan berikan kesempatan untuk kita
Bahagiakan Ibu dan Ayah kita 
Dengan yang terbaik yang kita bisa

Seperti yang terbaik yang kita beri untuk anak-anak  kita
Serta menyertakan mereka selalu dalam setiap do'a


Jangan beri yang tersisa dari yang kita punya
Untuk insan yang berkorban nyawa dan harta
Sebelum tiba masanya...
Kita ingin memberi segala
Namun telah tak bisa
Karena mereka telah tiada



"Rabbigfirly waaliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shagiiraa...'
"Wahai tuhan Kami ampunilah kami serta orang tua kami. Dan sayangilah orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami..."
Allahumma Aamiin


Semoga Allah membahagiakan orang tua kita semua, Aamiin



(Catatan ini didedikasikan khususnya untuk orang tuaku tercinta Ibu Hj.Herawati dan Bpk H. Djadjang Koeryana serta almh. Ibu Hj. Ayi Sumiati dan alm. Bpk H. Eman Masna Karnadimadja serta para orang tua di seluruh dunia)